Perusahaan Australia Lynas Teken Kesepakatan Pasok Rare Earth ke AS



KONTAN.CO.ID - Perusahaan tambang asal Australia, Lynas Rare Earths, mengumumkan bahwa anak usahanya di Amerika Serikat (AS), Lynas USA LLC, telah menandatangani letter of intent (LoI) yang mengikat dengan pemerintah AS untuk menyelesaikan kesepakatan pasokan oksida logam tanah jarang.

Dalam kesepakatan tersebut, Departemen Pertahanan AS atau Pentagon akan mengalokasikan sekitar US$96 juta untuk membeli produk oksida rare earth ringan dan berat dari Lynas.

Baca Juga: Harga Minyak Berpotensi Naik Lagi, Konflik Timur Tengah Ancam Fasilitas Ekspor


Perjanjian itu juga menetapkan harga dasar (floor price) sebesar US$110 per kilogram untuk NdPr oxide atau neodymium-praseodymium, bahan utama dalam pembuatan magnet permanen berperforma tinggi.

Menurut Lynas, kerangka kerja dalam LoI ini akan menjadi dasar perjanjian pasokan selama empat tahun yang bertujuan memperkuat keamanan nasional dan ketahanan rantai pasok AS.

Struktur kerja sama baru ini muncul setelah kedua pihak sepakat merevisi kesepakatan sebelumnya, menyusul ketidakpastian terkait rencana pembangunan fasilitas pemrosesan rare earth berat di Seadrift, Texas.

CEO Lynas Amanda Lacaze mengatakan, kerja sama tersebut akan memastikan industri pertahanan AS tetap memiliki akses terhadap bahan baku penting bagi manufaktur modern.

Baca Juga: Anomali Perang Iran: AS Optimis Usai Cepat, Iran Tegas Tolak Negosiasi

“Melalui perjanjian ini, basis industri pertahanan AS akan terus memiliki akses terhadap oksida rare earth ringan dan berat yang sangat penting bagi manufaktur modern,” ujarnya.

Logam tanah jarang merupakan komponen penting dalam berbagai teknologi modern. Mineral ini digunakan dalam jumlah kecil namun krusial pada berbagai perangkat seperti smartphone, mesin cuci, kendaraan listrik, hingga sistem militer canggih seperti jet tempur.

Kesepakatan tersebut juga terjadi di tengah upaya Amerika Serikat untuk memperkuat pasokan mineral kritis dan mengurangi ketergantungan terhadap China.

Baca Juga: Operasi Bongkar Muat Minyak Fujairah Kembali Berjalan Usai Serangan Drone

Saat ini, China menguasai sekitar 90% produksi magnet rare earth dunia, menjadikannya pemain dominan dalam rantai pasok global.

Sementara itu, Lynas dikenal sebagai produsen rare earth terbesar di dunia di luar China, sehingga menjadi mitra strategis bagi upaya diversifikasi pasokan mineral kritis Amerika Serikat.