Perusahaan gencar ekspansi ke batubara



JAKARTA. Permintaan batubara yang tak pernah surut dan harga nan ciamik membuat banyak perusahaan gencar melebarkan sayap usahanya ke tambang batubara. PT Intraco Penta Tbk, misalnya. Intraco pada awal tahun ini akan merealisasikan rencana akuisisi tambang batubara di Kalimantan Timur.

Menurut Petrus Halim, Presiden Direktur Intraco, untuk memuluskan rencana ini, Intraco akan membentuk anak usaha khusus di bidang tambang batubara. Pembentukan usaha baru ini bakal dipaparkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham, awal kuartal II-2012 nanti.

Setelah itu, Intraco baru akan menganggarkan belanja modal untuk ekspansi. "Selama ini Intraco sudah menyelami sektor jasa di pertambangan batubara, tapi untungnya biasa saja. Nah, setelah kami hitung kalau masuk ke batubara, profit pasti bisa lebih besar," ujar Petrus, Kamis (12/1).


Dongkrak penjualan

Dalam ekspansi ini, Intraco akan mengakuisisi tambang yang sudah eksplorasi, namun belum berproduksi. Di tahun pertama, Intraco menargetkan produksi batubara di bawah dua juta ton per tahun.

Batubara ini akan dijual sesuai dengan harga di pasar global, sekitar US$ 90 per ton. Petrus yakin, penjualan batubara akan menyumbang 25% terhadap total pendapatan perusahaan.

Tahun ini, Intraco menargetkan pendapatan tumbuh double digit. Adapun sepanjang Januari-September 2011, pendapatan Intraco sudah menyentuh Rp 2,07 triliun.

Di samping Intraco, PT Myoh Technology Tbk juga gencar melanjutkan rencananya ekspansi ke batubara. "Saat ini Myoh fokus menyesuaikan administrasi pasca akuisisi dan pengorganisasian kembali," ujar Gilyong Ha, Direktur Keuangan Myoh.

Seperti diketahui, Myoh sudah banting setir dari jasa teknologi informasi ke batubara. Myoh juga akan ganti nama menjadi PT Samindo Resources Tbk. Alokasi modal ekspansi pertama Myoh ini sebesar US$ 20 juta. Duit ini untuk pembelian ekskavator. Selanjutnya, Myoh baru mengakuisisi kontraktor tambang, PT Sims Jaya Kaltim, senilai Rp 516 miliar.

Dengan ekspansi ini, Myoh menargetkan pendapatan Rp 1,53 triliun di tahun ini, atau naik 5,5% dari pendapatan 2011 yang sebesar Rp 1,45 triliun.

Tak ketinggalan, Grup Lippo juga berniat merambah tambang mineral. Seperti diberitakan, November 2011 lalu, Lippo telah membeli sebagian saham CS Mining LLC, tambang tembaga di AS.

Untuk di dalam negeri, Lippo mengincar kerjasama dari tambang batubara, emas, dan pasir besi di Kalimantan dan Papua.

Sayang, Theo Sambuaga, Presdir Lippo enggan merinci rencana itu . "Saya sedang di pelosok," tuturnya beralasan. n

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: