Perusahaan iklan panen besar dari hajatan pemilu



JAKARTA. Momentum pemilihan umum (pemilu) tahun ini rupanya membawa berkah para perusahaan periklanan. Perusahaan periklanan di Indonesia berlomba-lomba untuk memperebutkan dana kampanye dari partai politik yang jumlahnya nyaris mencapai Rp 2 triliun.

Kesempatan yang cuma datang lima tahun sekali ini tentu tidak disia-siakan oleh pebisnis iklan domestik. Salah satunya PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) yang berusaha menangkap peluang ini.

Arif Boediharjo, Chief Executive Officer Fortune Indonesia menyatakan, momentum pemilu kali ini mendorong pertumbuhan industri iklan secara umum serta bagi perusahaan. "Untuk pemilu kali ini, kami sudah memiliki mitra dari perseorangan maupun dari partai politik. Kami sudah membuat kesepakatan dengan calon tersebut serta satu partai politik (parpol)," katanya ke KONTAN, Selasa (4/3).


Sayang, Arif tidak bisa memberitahu berapa target yang dibidik perusahaan dalam menggarap iklan pemilu kali ini. Yang jelas, potensi dari dana kampanye ini sangatlah besar dan menggiurkan bagi perusahaan iklan. "Potensi iklan pemilu ini sangat besar, baru saja saya baca berita dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) kalau dana kampanye parpol bisa mencapai Rp 2 triliun. Nah, ini jelas potensinya besar sekali," timpalnya.

Lebih lanjut, Arif berujar, tahun ini, iklan kampanye pemilu paling tinggi akan datang dari media iklan digital. Pasalnya, ada aturan yang menyebutkan batasan iklan kampanye di media televisi. "Kami melihat peluang dari media digital, termasuk media sosial akan sangat tinggi sebagai strategi menggapai para pemilih muda," ucapnya.

Arif mengatakan, bila dibandingkan dengan empat tahun lalu saat jumlah parpol yang terlibat bisa mencapai 44 partai, maka tahun ini cuma 12 partai. Namun yang menggembirakan adalah meski jumlahnya susut, namun nilai bisnisnya tidak ikut-ikutan menyusut. Melihat potensi ini, Arif optimistis potensi bisnis iklan kampanye untuk tahun bisa tumbuh double digit bila dibandingkan momentum serupa empat tahun lalu.

Televisi terbesar

Sebelumnya, Presiden Direktur Fortune Indonesia Indra Abidin menyatakan, biasanya anggaran komunikasi partai untuk iklan bisa mencapai Rp 200 miliar per partai. Namun, anggaran ini biasa digunakan untuk iklan di media massa, below the line (BTL) dan above the line (ATL) termasuk pencitraan.

Indra bilang, anggaran ini biasanya tidak termasuk biaya untuk mengorganisir massa hingga ke garis bawah. Misalnya, untuk membuat kaos atau menyebar leaflet.

Sedangkan untuk urusan pencitraan perorangan (personal branding), perusahaan ini tidak hanya membidik partai, tapi juga kadernya. Biaya personal branding bisa sampai Rp 100 miliar.

Dengan adanya momentum pemilu ini, Fortune menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun ini bisa mencapai 10%-15% dari tahun 2013. Adapun kontribusi dari partai politik bisa mencapai 15% dari total pendapatannya.

Ketua Umum Persatuan Periklanan Indonesia (P3I) Harris Thajeb menyebutkan, Pemilu dan World Cup bisa berkontribusi 5%-6% atau sekitar Rp 7 triliun sampai Rp 8 triliun dari proyeksi belanja iklan tahun ini yang bisa mencapai Rp 144 triliun.

Menurut Harris, kontribusi terbesar belanja iklan untuk kampanye masih berasal dari media televisi. Media televisi bisa mengambil porsi sebesar 65%-68% dari total belanja iklan pemilu.

Posisi kedua masih berasal dari media cetak yang memberi porsi senilai 28%. Adapun dari media digital sekitar 4%-7%. Namun, media digital mencatatkan pertumbuhan signifikan bisa 100%-300%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan