Perusahaan Kendaraan Listrik Grup Bakrie Ini Akan Right Issue Rp 3 T, Ini Jadwalnya



KONTAN.CO.ID - Jakarta. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melaksanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau rights issue.

Dalam aksi korporasi tersebut, perusahaan milik Grup Bakrie ini akan menerbitkan sebanyak 15 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 10 per saham. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp 200 per saham.

Dengan demikian, VKTR berpotensi menghimpun dana hingga Rp 3 triliun sebelum dikurangi biaya-biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan rights issue. Informasi tersebut juga tercantum dalam prospektus final VKTR.


Direktur Utama VKTR A. Ardiansyah Bakrie mengatakan, PMHMETD I merupakan bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat permodalan sekaligus mendukung pengembangan bisnis kendaraan listrik komersial di Indonesia.

"Kami melihat peluang yang semakin besar seiring dengan meningkatnya kebutuhan elektrifikasi di berbagai sektor," kata Ardi dalam keterangan resminya, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: Asing Net Sell Rp 777 Miliar Saat IHSG Terkoreksi, Cek Saham yang Banyak Dijual

Struktur rights issue VKTR

Dalam pelaksanaan PMHMETD I, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebagai pemegang saham utama tidak akan menggunakan seluruh HMETD yang menjadi haknya.

BNBR akan mengalihkan seluruh HMETD tersebut kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI). Berdasarkan prospektus, BCI akan melaksanakan 3.660.631.994 HMETD yang dialihkan BNBR dengan harga Rp 200 per saham.

Dengan demikian, nilai pelaksanaan HMETD tersebut mencapai sekitar Rp 732,13 miliar.

Selain itu, BCI bersama PT Biofuel Indo Sumatra (BIS) bertindak sebagai pembeli siaga apabila masih terdapat saham baru yang tidak terserap setelah pelaksanaan HMETD dan proses penjatahan.

Total saham yang menjadi komitmen pembelian siaga mencapai 11.339.368.006 saham atau senilai maksimal sekitar Rp 2,27 triliun.

Dari jumlah tersebut, BCI akan mengambil sebanyak-banyaknya 3.089.368.006 saham dengan nilai maksimal sekitar Rp 617,87 miliar. Sementara itu, BIS akan mengambil sebanyak-banyaknya 8,25 miliar saham atau senilai maksimal Rp 1,65 triliun.

Struktur tersebut membuat sebagian besar saham baru VKTR memiliki dukungan penyerapan melalui HMETD yang dialihkan maupun komitmen pembelian siaga.

Tonton: Dua Bupati Jadi Tersangka dalam Sepekan, Begini Modus Dugaan Korupsinya

Rasio dan jadwal rights issue VKTR

Dalam PMHMETD I, setiap pemegang 35 saham VKTR yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 8 Oktober 2026 pukul 16.15 WIB berhak memperoleh 12 HMETD.

HMETD tersebut dapat diperdagangkan selama 10 Hari Bursa, yakni pada 12-16 Oktober 2026 dan dilanjutkan pada 19-23 Oktober 2026.

Sementara itu, pelaksanaan HMETD terakhir dilakukan pada 23 Oktober 2026. Saham baru hasil pelaksanaan HMETD akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dengan penerbitan seluruh 15 miliar saham baru, jumlah saham baru tersebut setara dengan sekitar 25,53% dari modal ditempatkan dan disetor penuh VKTR setelah rights issue. Karena itu, pemegang saham lama yang tidak menggunakan HMETD berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 25,53%. Angka tersebut juga sejalan dengan prospektus final VKTR yang diberitakan pada 29 September 2026.

Baca Juga: Wall Street: S&P dan Nasdaq Naik, Dipicu Turunnya Harga Minyak & Optimisme Teknologi

Dana rights issue VKTR digunakan untuk apa?

VKTR akan menggunakan dana hasil PMHMETD I, setelah dikurangi biaya emisi, untuk memperkuat kapasitas bisnis kendaraan listrik komersial.

Sekitar 66,86% dari dana bersih hasil rights issue akan digunakan sebagai setoran modal kepada PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI). Dana tersebut nantinya mendukung pembelian kendaraan listrik dari VKTR yang diperkirakan berlangsung pada 2026-2027.

Adapun sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja perseroan. Penggunaannya mencakup kebutuhan operasional serta pengadaan persediaan kendaraan listrik, seperti bus listrik, truk listrik, transporter listrik, dan forklift listrik.

Dalam prospektus final, komposisi penggunaan dana tersebut juga dirangkum sebagai sekitar 66,86% untuk setoran modal ke SEI dan sisanya untuk modal kerja VKTR.

Baca Juga: Short Selling Lima Saham BEI Dimulai, Cermati Catatan Analis

VKTR kembangkan bisnis e-MaaS

Selain meningkatkan kapasitas penyediaan kendaraan listrik, VKTR juga mengembangkan konsep Electric Mobility-as-a-Service (e-MaaS) melalui SEI.

Ardiansyah menjelaskan, e-MaaS ditujukan untuk membantu operator dan pelaku usaha melakukan transisi dari kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik tanpa harus menanggung kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang besar di awal.

Melalui skema tersebut, pelanggan dapat mengakses kendaraan listrik beserta ekosistem pendukungnya dengan pendekatan biaya operasional atau operating expenditure (opex).

Menurut Ardiansyah, elektrifikasi kendaraan komersial tidak hanya membutuhkan ketersediaan unit kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, serta layanan operasional juga menjadi bagian penting dalam mendorong adopsi kendaraan listrik.

"Melalui e-MaaS, kami ingin menghadirkan solusi yang lebih sederhana dan terjangkau, sehingga penggunaan kendaraan listrik dapat semakin mudah diterapkan dalam kegiatan bisnis," ujar Ardiansyah.

Dengan pengembangan tersebut, VKTR tidak hanya mengandalkan penjualan kendaraan listrik, tetapi juga memperluas model bisnis melalui penyediaan solusi elektrifikasi bagi operator dan pelaku usaha.  

APBN 2027 Disahkan DPR, Ini Anggaran dan Target Ekonomi Indonesia
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News