Perusahaan RI Mulai Pakai Agentic AI, Bisa Proses Klaim Asuransi hingga Deteksi Fraud



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan perusahaan Indonesia mulai bergeser dari sekadar chatbot menjadi agentic AI, teknologi yang mampu menjalankan tugas dan mengambil tindakan secara otomatis berdasarkan instruksi pengguna.

Area Vice President Asia Confluent Rully Moulany mengatakan penggunaan AI saat ini tidak lagi terbatas untuk menjawab pertanyaan atau membuat ringkasan dokumen. Perusahaan mulai mengembangkan AI yang dapat menjalankan proses bisnis secara langsung.

Menurutnya, perkembangan tersebut terlihat dari meningkatnya minat perusahaan terhadap implementasi agentic AI di berbagai sektor industri.


Baca Juga: DSFI Beberkan Dampak Positif dan Negatif Saat Nilai Tukar Rupiah Melemah

"Kalau kami bicara level enterprise, sekarang yang lebih banyak hype-nya itu yang disebut dengan agentic AI. Jadi bukan lagi sekadar kita minta tolong chatbot untuk menulis sesuatu atau mencari sesuatu, tapi kita meminta AI untuk melakukan sesuatu buat kita yang sifatnya actionable," ujarnya kepada Kontan, di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Rully mencontohkan pada industri penerbangan, AI kini tidak hanya berfungsi menjawab pertanyaan pelanggan mengenai jadwal penerbangan, tetapi juga dapat membantu mengubah jadwal keberangkatan, memilih kursi, memproses penggunaan poin loyalitas, hingga menyelesaikan transaksi secara otomatis.

Implementasi serupa juga mulai terlihat di sektor asuransi. Menurut Rully, sejumlah perusahaan memanfaatkan AI untuk mempercepat proses klaim dengan menganalisis dokumen, membandingkan data dengan ketentuan polis, hingga memberikan rekomendasi keputusan secara otomatis.

Sementara di sektor perbankan, AI mulai digunakan untuk mendeteksi transaksi mencurigakan dan mengidentifikasi potensi fraud secara real time.

"Biasanya yang paling diinginkan oleh perbankan itu meminimalisir fraud. Karena itu biayanya tinggi kalau terjadi fraud," katanya.

Meski demikian, Rully menilai adopsi agentic AI dalam skala besar masih menghadapi tantangan. Banyak perusahaan baru menjalankan proyek percontohan karena sistem AI membutuhkan akses terhadap berbagai sumber data perusahaan yang selama ini masih terpisah-pisah.

Menurut dia, tanpa fondasi data yang kuat dan terintegrasi, perusahaan akan kesulitan mengembangkan AI untuk menangani proses bisnis yang lebih kompleks.

Baca Juga: Tiket.com:Tiket Pesawat Kuasai 72,5% Transaksi Perjalanan Domestik Libur Sekolah 2026

"Kalau cuma satu dua pilot project mungkin masih oke. Tapi ketika sudah multiple use cases atau multiple line of business yang mereka implementasikan, itu biasanya mereka akan struggle," ujarnya.

Rully menambahkan tren agentic AI diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat layanan pelanggan, dan mengurangi potensi kesalahan manusia dalam proses bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News