Pesawat Militer China Kembali Mendekati Taiwan, Kali Ini Ada 24 Unit



KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Kementerian Pertahanan Taiwan pada hari Jumat (22/9) melaporkan telah melacak kehadiran pesawat militer China di sekitar zona pertahanan Taiwan.

Mengutip Reuters, jumlah pesawat yang muncul kali ini sebanyak 24 unit, dengan 17 di antaranya melintasi garis median Selat Taiwan.

Garis median tersebut sebelumnya berfungsi sebagai pembatas tidak resmi antara Taiwan dan China, namun fungsinya mulai diabaikan sejak pesawat militer China mulai melintasinya secara teratur pada tahun lalu.   Ini bukan kunjungan pertama pesawat militer China ke Taiwan dalam sepekan. Pada tanggal 19 September lalu, otoritas pertahanan Taiwan juga melacak kehadiran 27 pesawat China dalam kurun waktu 24 jam. Di dalamnya bahkan termasuk jet tempur.


Baca Juga: Lebih dari 100 Jet Tempur China Kembali Provokasi Taiwan

Pekan lalu, tepatnya pada tanggal 14 September 2023, Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan mereka telah mendeteksi 40 pesawat Angkatan Udar China masuk ke zona pertahanan udara Taiwan.

Saat itu pihak Taiwan menyebut sebagian besar pesawat terbang ke selatan Taiwan dan menuju Selat Bashi. Berdasarkan peta yang disediakan kementerian, setidaknya empat pesawat juga melintasi garis median Selat Taiwan.

Dalam laporan dua tahunannya yang dirilis 12 September 2023 lalu, Kementerian Pertahanan Taiwan menyebut China telah memperkuat kekuatan udaranya di sepanjang pantai yang menghadap ke Taiwan.

Baca Juga: Rencana Modernisasi Militer China Mulai Membuahkan Hasil di Tahun 2023

Taiwan percaya China berusaha melakukan pengerahan pesawat tempur secara permanen dan drone baru di pangkalan udara yang diperluas.

Dalam Laporan Pertahanan Nasionalnya, kementerian tersebut mengatakan China juga menggunakan pelatihan dan latihan tempur yang realistis untuk memperkuat kesiapannya melawan Taiwan.

"Komunis China telah menyelesaikan perluasan lapangan terbang di sepanjang garis pantai komando teater timur dan selatannya, menyelaraskan kembali pesawat tempur dan drone baru untuk ditempatkan secara permanen di sana," tulis Kementerian Pertahanan Taiwan dalam laporannya.

Di bawah kuasa Presiden Tsai Ing-wen, Taiwan telah menerapkan strategi pertahanan asimetris dengan meningkatkan kemampuan jangka panjang, presisi, tak berawak, bermanuver, dan kecerdasan buatan.

Semuanya bertujuan agar militer mereka siap menghadapi potensi invasi dari China yang bisa datang kapan saja.