Peso Filipina Jadi Mata Uang Asia dengan Pelemahan Terbesar pada Selasa (11/8)



KONTAN.CO.ID - Peso Filipina menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terbesar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (11/8/2026).

Berdasarkan data Reuters pada pukul 02.05 GMT, peso melemah 0,38% menjadi 60,955 per dolar AS dari 60,721 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan peso terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang relatif beragam. Yen Jepang menguat 0,08% menjadi 159,18 per dolar AS, dolar Singapura menguat 0,02% ke 1,280 per dolar AS, sementara dolar Taiwan menguat 0,09% ke 32,202 per dolar AS.


Baca Juga: Singapura Kerek Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Jadi 4,5%-5,5%

Won Korea Selatan juga menguat 0,18% menjadi 1.415,7 per dolar AS. Baht Thailand naik 0,04% ke 32,975 per dolar AS, sedangkan yuan China menguat tipis 0,02% menjadi 6,745 per dolar AS.

Sebaliknya, rupiah Indonesia melemah 0,22% menjadi 17.790 per dolar AS. Ringgit Malaysia juga turun 0,10% menjadi 4,092 per dolar AS.

Rupiah Melemah 6,3% Sepanjang 2026

Secara kumulatif sepanjang 2026, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan kinerja terburuk. Rupiah telah melemah 6,30% dibandingkan posisi akhir 2025 di level 16.670 per dolar AS.

Rupee India juga telah terdepresiasi 5,70%, sedangkan baht Thailand melemah 4,62% dan peso Filipina turun 3,54%.

Baca Juga: Bank Sentral China Hentikan Suntikan Likuiditas Harian, Pertama Kali Sejak Juni

Sebaliknya, won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang Asia yang menguat sepanjang tahun ini, dengan apresiasi 1,68% terhadap dolar AS. Yuan China juga menguat 3,60%, sementara dolar Singapura naik 0,43%.

Pergerakan mata uang Asia saat ini turut dipengaruhi perkembangan harga minyak, prospek kebijakan moneter AS, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Investor juga masih mencermati data inflasi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga Federal Reserve.