KONTAN.CO.ID - DAVOS, Swiss. Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan utama dalam pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos pekan ini. Penggunaan tarif sebagai alat kebijakan luar negeri dinilai mendorong banyak negara untuk mempercepat upaya diversifikasi perdagangan global dan mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika Serikat. Ketegangan memuncak setelah Trump akhir pekan lalu mengancam akan mengenakan tarif baru terhadap sekutu Eropa yang menentang rencananya terkait Greenland.
Meski ancaman tersebut ditarik kembali pada Rabu (21/1) usai pengumuman kerangka kesepakatan dengan NATO mengenai pulau Arktik tersebut, ketidakpastian sudah telanjur memicu kegelisahan di kalangan mitra dagang utama AS.
Baca Juga: Harga Emas Spot Memudar Usai Trump Melunak Soal Greenland “Kecepatan, skala, dan cakupan perubahan inilah yang benar-benar mengguncang dunia,” ujar Menteri Keuangan Kanada François-Philippe Champagne dalam diskusi panel soal tarif di Davos. WEF kali ini merupakan pertemuan pertama sejak Trump tahun lalu menaikkan tarif AS ke level tertinggi hampir dalam satu abad. Kebijakan tersebut membuat banyak negara berlomba memperkuat perdagangan antar mereka untuk menutup potensi penurunan akses ke pasar AS. Trump berulang kali menyatakan kebijakan tarifnya berhasil mengembalikan lapangan kerja ke AS, mendorong investasi hingga triliunan dolar, serta memacu pertumbuhan ekonomi. Namun, berbagai studi memperkirakan peran AS dalam perdagangan global ke depan akan menyusut dibandingkan periode sebelumnya. Champagne menegaskan, banyak negara kini aktif mendiversifikasi hubungan dagang dan memperkuat kerja sama regional guna meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap guncangan kebijakan perdagangan. “Ketika berbicara dengan para CEO, yang mereka inginkan adalah stabilitas, kepastian, dan supremasi hukum. Saat ini, itu terasa langka,” katanya, beberapa hari setelah Kanada dan China mencapai kesepakatan untuk memangkas tarif kendaraan listrik dan canola. Langkah serupa terlihat di Eropa. Uni Eropa dan blok Amerika Selatan Mercosur menandatangani perjanjian perdagangan bebas bulan ini setelah 25 tahun negosiasi. Jika lolos dari hambatan hukum yang tersisa, kesepakatan ini akan menjadi perjanjian dagang terbesar yang pernah dibuat Uni Eropa. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) turut mendukung diversifikasi rantai pasok global. Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala menilai strategi ini dapat menyebarkan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi ke lebih banyak negara.
Baca Juga: Putin Angkat Bicara Soal Ambisi Trump Kuasai Greenland: Bukan Urusan Rusia! “Ini membantu membangun ketahanan global, dan kami sangat mendukungnya,” ujarnya.
Porsi AS dalam Perdagangan Global Diproyeksi Menyusut
Boston Consulting Group (BCG) memproyeksikan pangsa AS dalam perdagangan barang global dapat turun dari 12% menjadi 9% dalam dekade hingga 2034, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi domestik di AS. “Trump seperti menggergaji cabang tempat ia duduk,” kata Dirk Jandura, Ketua Asosiasi Eksportir Jerman (BGA), merujuk data yang menunjukkan ekspor Jerman ke AS turun 9% selama 11 bulan pertama 2025. Volker Treier, Kepala Perdagangan Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri Jerman, menambahkan bahwa tarif atas bahan baku seperti baja dan aluminium membuat biaya pembangunan kapasitas industri di AS menjadi lebih mahal. Survei terbaru juga menunjukkan aktivitas manufaktur AS mengalami kontraksi selama 10 bulan berturut-turut hingga Desember. “Dunia menjadi lebih mahal, dan secara struktural akan semakin mahal,” ujar Treier.
Arus Perdagangan Global Berubah Cepat
BCG memetakan empat simpul utama perdagangan dunia ke depan, yakni AS, China, BRICS+ tanpa China, serta kelompok “plurilateral” yang mencakup sebagian besar Eropa, Kanada, Meksiko, Jepang, Australia, dan sejumlah negara Asia-Pasifik. Dalam skenario ini, perdagangan antar negara plurilateral dan perdagangan China dengan mitra Global South diperkirakan menjadi pendorong utama perdagangan global, sementara pertumbuhan perdagangan AS melambat. Perubahan arus perdagangan juga dirasakan di sektor logistik. CEO Pelabuhan Long Beach, Noel Hacegaba, mengatakan bahwa sejak masa jabatan pertama Trump, komposisi perdagangan pelabuhan tersebut telah berubah signifikan.
Baca Juga: Indonesia dan 6 Negara Lain Resmi Gabung Inisiatif “Board of Peace” Trump untuk Gaza Pada 2019, sekitar 70% kargo Long Beach berasal dari perdagangan dengan China. Tahun lalu, angkanya turun menjadi 60%, dengan peningkatan pasokan dari Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Sementara itu, CEO Pelabuhan Rotterdam Boudewijn Siemons menilai Eropa harus bergerak cepat menyesuaikan diri dengan realitas baru.
“Selama ini kami bergantung pada produksi murah dari China, energi murah dari Rusia, dan pertahanan murah dari Amerika Serikat. Ketiga penopang itu kini mulai runtuh, sehingga kami harus segera mengonfigurasi ulang diri kami,” tegasnya. Dengan dinamika tersebut, Davos 2026 menjadi panggung penting bagi negara-negara dan pelaku usaha global untuk merumuskan ulang strategi perdagangan, di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan tarif AS dan pergeseran lanskap ekonomi dunia.