Petani Jagung Kebal Kenaikan Harga Pupuk Global, Mengapa Bisa?



KONTAN.CO.ID - Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) menilai kenaikan harga pupuk urea global belum memberikan dampak signifikan bagi petani jagung di dalam negeri.

Kenaikan harga pupuk tersebut dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi pasar komoditas global. Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (5/3/2026), harga urea meningkat 1,57% dibanding perdagangan sebelumnya menjadi US$ 585,3 per ton.

Ketua Umum APJI Sholahuddin mengatakan, sebagian besar petani pangan termasuk petani jagung saat ini masih menggunakan pupuk bersubsidi. Karena itu, kenaikan harga pupuk di pasar internasional belum langsung dirasakan di tingkat petani.


Menurutnya, hingga saat ini harga pupuk subsidi yang diterima petani masih relatif stabil.

"Dampaknya itu dirasakan negara. Jika harga dasar dari industri naik, otomatis subsidinya yang akan naik. Negara yang menanggung kenaikan itu," ujarnya saat dihubungi Kontan, Minggu (8/3/2026).

Sholahuddin menambahkan, sekalipun harga pupuk subsidi nantinya mengalami kenaikan akibat tekanan global, beban petani dinilai tidak akan terlalu berat selama harga hasil panen tetap terjaga.

Apalagi, pemerintah sebelumnya telah menurunkan harga pupuk subsidi sekitar 20% sejak Oktober 2025 melalui kebijakan Menteri Pertanian.

Baca Juga: Ekspor Sawit Terancam? Eropa Belum Patuh, RI Siapkan Balasan WTO

"Kalaupun akan naik, setidaknya kembali ke harga awal, karena kemarin sejak Oktober 2025 kan turun 20%," jelasnya.

Meski demikian, Sholahuddin mengingatkan bahwa biaya produksi petani berpotensi meningkat apabila terjadi kenaikan harga produk penunjang pertanian lainnya seperti herbisida, pestisida, maupun fungisida.

Menurutnya, kenaikan harga bahan-bahan tersebut tidak dapat dihindari jika industri terkait mengalami peningkatan biaya produksi akibat konflik global yang berkepanjangan.

Namun demikian, ia menilai porsi biaya untuk produk penunjang tersebut relatif tidak terlalu besar dalam struktur biaya produksi petani jagung.

Sholahuddin menambahkan bahwa saat ini ancaman terbesar bagi petani jagung justru berasal dari faktor iklim.

Ia mengungkapkan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi kemarau berkepanjangan yang dapat terjadi mulai Mei hingga sekitar Oktober.

Tonton: 3 WNI Hilang di Selat Hormuz! Kapal Meledak di Tengah Konflik Iran–AS

Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan petani jagung, terutama yang mengelola lahan sawah dengan keterbatasan air dan tidak memiliki sistem irigasi teknis.

"Di situlah bagi petani jagung yang di lahan-lahan sawah yang kurang air, tidak ada irigasi teknis, mungkin akan kesulitan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News