Petani rumput laut terpapar kemarau panjang



Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah yang dirasakan para petani rumput laut di Brebes, Jawa Tengah. Sudah produksi merosot karena dampak kemarau panjang, harga jual rumput laut juga anjok karena ada panen raya di wilayah Sulawesi.

Djarot, salah seorang petani rumput laut di Desa Randu Sanga, Brebes, mengatakan, produksi rumput laut selama kemarau merosot tajam. Hal ini terjadi karena selama kemarau lumut rumput tumbuh subur, sehingga mengganggu pertumbuhan rumput laut dan menurunkan kualitas. "Lumut rumput ini membuat hasil panen merosot tajam," kata Djarot.

Biasanya dalam sebulan bisa memanen hingga 8 ton rumput laut kering, tapi sekarang hanya 2 ton saja.  Hingga saat ini, tidak ada upaya apapun yang dilakukan Djarot untuk menggenjot hasil panennya.


Kondisi ini diperparah dengan anjloknya harga jual rumput laut di pasaran. Menurut Djarot, harga jual rumput laut saat ini hanya Rp 8.300 per kilogram (kg). Padahal biasanya harga bisa mencapai Rp 9.000 per kg.

Turunnya harga jual ini dipicu musim panen raya di daerah Sulawesi. Akibatnya, banyak pabrik olahan rumput laut kelebihan stok. Djarot mengaku, omzetnya  ikut menciut tajam. Bila kondisi normal bisa mengantongi pendapatan hingga puluhan juta per bulan, kini hanya Rp 16 juta saja. "Turun besar," cetusnya.

Kondisi yang sama juga dialami oleh Encang Sudrajat, petani rumput laut di Losari, Brebes. Menurut Encang, di desanya, harga jual rumput laut saat ini hanya sekitar Rp 7.000 hingga Rp 7.500 per kg. Padahal, harga normal rumput laut di desanya bisa mencapai Rp 8.500 per kg.

Di tengah penurunan harga, ia pun hanya mengantongi omzet sekitar Rp 14 juta sekali panen. Encang mengakui, produksi rumput laut terganggu karena kemarau. Banyak areal tambak rumput lautnya ditumbuhi lumut

Namun, tetap ada dampak positifnya. Antara lain penjemuran menjadi lebih mudah. “Dalam sehari sudah bisa kering,” katanya. Untuk mengatasi agar lumut tidak meluas, dia memasukkan ikan bandeng ke dalam tambak rumput lautnya. Ikan bandeng ini akan memakan lumut rumput tersebut.

Encang sendiri sudah menjadi petani rumput laut di Losari sejak tahun 2.000 silam. Namun, dia sempat berhenti saat harga jual rumput laut jatuh hingga Rp Rp 2.000 per kg. Nah, baru sekitar tiga bulan ini dia kembali aktif membudidayakan rumput laut.

Encang memiliki tambak rumput laut seluas 14 hektare (ha). Bila cuaca mendukung, dalam satu kali panen dia bisa menghasilkan 2 ton rumput laut kering. Untuk pemasarannya, ia menitipkan pada pedagang pengumpul (pengepul) yang berada di Desa Randu Sanga. Alasannya, belum ada pabrik yang masuk ke desanya karena hasil panen yang masih terbatas.      

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri