Petani tembakau Buleleng resah isu harga rokok



BULELENG. Para petani tembakau di Desa Bhaktiseraga, Kabupaten Buleleng, Bali, resah terkait isu kenaikan harga rokok yang banyak beredar di media massa.

"Jangan sampai turunlah karena tembakau merupakan salah satu andalan kami di sini. Banyak petani bergantung dari tembakau," kata Nyoman Sardi, salah satu petani tembakau di daerah itu, Selasa (30/8).

Ia mengatakan, banyak petani sudah mulai menanam tembakau jenis virginia di atas lahan yang selama ini ditanami padi dan tembakau. Banyak yang resah takut tembakau tidak dapat dijual.


Menurut dia, para petani kecil di daerah itu menanam tembakau dengan jumlah lahan yang bervariasi. "Tergantung jumlah lahan dan kerja sama dengan pihak swasta.

Sardi mengharapkan, pemerintah memberi kejelasan mengenai kebijakan tersebut dan memihak kepada para petani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari sektor tersebut.

"Kami tidak mengetahui secara pasti alasan kenaikan harga tembakau itu. Kami pun berharap jangan karena alasan sepihak kemudian mematikan mata pencaharian para petani tembakau di Buleleng," paparnya.

Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Buleleng mencatat pada 2014 lalu luas lahan tanam tembakau mencapai sekitar 343,5 hektare dengan jumlah produksi total mencapai 626,16 ton, produktivitas 1.823 kilogram per hektare.

Sedangkan pada 2015 lalu lahan yang ditanami seluas 493,75 hektare dengan rincian Virginia Krosok seluas 394 hektar, Virginia Rajangan seluas 60 hektare serta tembakau `White Burley` seluas 49,75 hektare.

Mengenai produksi pada 2015 lalu, kata dia, jenis Virginia Krosok menghasilkan 731,724 ton dengan produktivitas sebesar 1.857,17 kilogram per hektare.

Virginia rajangan menghasilkan 96 ton dengan produktivitas 1.920 kilogram per hektare dan untuk jenis `white burley` menghasilkan 33 ton dengan produktivitas 663,32 kilogram per hektare.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto