Peternak Ayam Desak Implementasi Pembelian Bungkil Kedelai Lewat Berdikari Ditunda



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) meminta agar implementasi kebijakan kewajiban pembelian bungkil kedelai atau soybean meal (SBM) melalui PT Berdikari (Persero) dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan kesiapan berbagai aspek. 

Sekretaris Jenderal GOPAN Sugeng Wahyudi mengungkapkan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) sebelumnya telah memanggil para pelaku industri, termasuk GOPAN, untuk membahas rencana tersebut.

Rencananya, kebijakan ini seharusnya telah berlaku mulai bulan Maret lalu, namun dari sisi industri meminta agar implementasi diundur untuk memastikan tidak ada hambatan, terutama dari sisi kesiapan pasokan dan harga. 


“Sedianya akan dilakukan bulan Maret tetapi ada usulan dari para pelaku agar diundur terlebih dahulu untuk memastikan tidak adanya hambatan jika waktunya cukup,” ungkap Sugeng, kepada Kontan.co.id, senin (4/5/2026). 

Baca Juga: Aplikasi blu by BCA Digital: Cara Beli Emas Digital Tanpa Ribet!

Ia melanjutkan, industri juga ingin memastikan kesiapan dari PT Berdikari mengingat penugasan ini adalah hal yang baru. Dengan begitu, diharapkan tidak akan menimbulkan masalah, seperti kelangkaan pasokan.  

Di satu sisi, Sugeng melihat kebijakan ini berpotensi memperkuat peran pemerintah dalam mengendalikan pasokan dan stabilitas industri pakan nasional. Di mana, pemerintah diharapkan memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap rantai pasok bahan baku pakan untuk ayam konsumsi. 

Namun demikian, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada kemampuan PT Berdikari dalam menjaga efisiensi harga dan kelancaran distribusi. 

Sugeng menekankan pentingnya daya saing harga, mengingat industri perunggasan domestik masih menghadapi tekanan dari produk impor, termasuk produk AS dan Brazil.  

“Mampukah PT Berdikari menjual harga yang kompetitif? Ini penting mengingat daya saing produk kita atau daging ayam Indonesia belum teruji atau masih kalah jika dibandingkan dengan produk ex import, misal AS dan Brazil,” paparnya. 

Adapun, kehadiran PT berdikari seharusnya dapat memastikan harga yang lebih kompetitif, jika dibandingkan jika pembelian sendiri-sendiri atau via importir. 

Baca Juga: Panduan Lengkap Beli Pulsa via Wondr by BNI

Di sisi lain, GOPAN mengingatkan adanya potensi risiko apabila harga SBM melalui mekanisme ini justru lebih tinggi dibandingkan skema impor langsung oleh industri.

Mengingat bungkil kedelai menyumbang sekitar 20%–22% dalam formulasi pakan ayam, kenaikan harga akan langsung berdampak pada biaya produksi.

“Sisi negatipnya jika harga nantinya justru lebih mahal maka bukan hanya membebani peternak sebagai konsumen pakan, tetapi berimbas naiknya harga dagging dan telur di pasar atau konsumen akhir. semoga ini tidak terjadi,” imbuh Sugeng.

Ia menilai, jika terjadi keterlambatan pasokan SBM, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh industri pakan nasional, yang pada akhirnya berimbas pada produksi ayam dan telur di dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News