JAKARTA. Pemerintah Indonesia dinilai kurang tanggap dalam mengatur fluktuasi harga komoditas, terutama ayam. Pasalnya, saat ini harga ayam belum stabil dan terus berubah tergatung permintaan dan supply. Hal ini membuat peternak ayam tradisional tidak bisa mengajukan pinjaman bank karena resiko usaha yang tinggi. Eko Putro Sandjojo, Direktur Utama PT Sierad Produce Tbk (SIPD) mengatakan bahwa pemerintah perlu membuat kebijakan yang pro kepada peternak. Salah satunya adalah membangun sarana pasca panen bukan dengan mengurangi produksi ayam yang akan berimbas kepada peternak. "Harusnya saat demand-nya turun ayamnya taruh di frozen, saat tinggi stock dari cold storage di lepas. Jadi peternak juga diuntungkan, peternak juga bisa bankable, di Indonesia kan peternak enggak bisa bankable karena risknya terlalu tinggi," ujarnya, Senin (15/2).
Peternak ayam Indonesia tidak bankable
JAKARTA. Pemerintah Indonesia dinilai kurang tanggap dalam mengatur fluktuasi harga komoditas, terutama ayam. Pasalnya, saat ini harga ayam belum stabil dan terus berubah tergatung permintaan dan supply. Hal ini membuat peternak ayam tradisional tidak bisa mengajukan pinjaman bank karena resiko usaha yang tinggi. Eko Putro Sandjojo, Direktur Utama PT Sierad Produce Tbk (SIPD) mengatakan bahwa pemerintah perlu membuat kebijakan yang pro kepada peternak. Salah satunya adalah membangun sarana pasca panen bukan dengan mengurangi produksi ayam yang akan berimbas kepada peternak. "Harusnya saat demand-nya turun ayamnya taruh di frozen, saat tinggi stock dari cold storage di lepas. Jadi peternak juga diuntungkan, peternak juga bisa bankable, di Indonesia kan peternak enggak bisa bankable karena risknya terlalu tinggi," ujarnya, Senin (15/2).