PetroChina dan Indian Oil Kesulitan Sewa Kapal Tanker Angkut Minyak Irak



KONTAN.CO.ID – SINGAPURA/NEW DELHI. Sejumlah perusahaan energi besar di Asia menghadapi kendala dalam mengamankan kapal tanker berkapasitas sangat besar atau very large crude carrier (VLCC) untuk mengangkut minyak mentah Basrah dari Irak pada akhir Juni 2026.

Kenaikan tarif angkut yang signifikan serta masih tingginya risiko pelayaran di Selat Hormuz menjadi penyebab utama.

Berdasarkan sumber perusahaan dan pelayaran yang dikutip Reuters pada Kamis (18/6), PetroChina dan Indian Oil Corp (IOC) gagal memperoleh VLCC untuk mengangkut minyak dari Irak. Sementara itu, perusahaan energi asal China lainnya, Sinochem, masih berupaya mencari kapal tanker yang tersedia.


Permintaan kapal tanker dari perusahaan-perusahaan energi milik negara China tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di antara kedua negara dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi pasokan energi dari Timur Tengah.

Tarif Pengiriman Hampir Tiga Kali Lipat

Menurut dua sumber di industri pelayaran, PetroChina mencari VLCC untuk memuat minyak dari Terminal Basrah Oil di Irak pada periode 25–30 Juni. Setiap VLCC memiliki kapasitas angkut sekitar 2 juta barel minyak.

Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis, Tapi Tertekan Sinyal Hawkish The Fed

PetroChina menerima sedikitnya enam penawaran dengan tarif worldscale antara 650 hingga 750 poin. Angka tersebut hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan tarif sebelum pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.

Dalam industri pelayaran, worldscale merupakan sistem acuan yang digunakan untuk menghitung tarif pengangkutan minyak mentah melalui kapal tanker.

Seorang pejabat PetroChina mengatakan bahwa meskipun kapal tanker tersedia, biaya sewanya dinilai terlalu mahal dan masih terdapat ketidakpastian terkait keselamatan pelayaran.

“Ada kapal tanker yang tersedia, tetapi masalahnya biayanya terlalu mahal dan tidak ada jaminan bahwa kapal dapat keluar dari selat tersebut dengan aman.”

Risiko Selat Hormuz Masih Membayangi

Salah satu sumber pelayaran mengatakan bahwa pasokan minyak dari kawasan Teluk diperkirakan masih akan menghadapi tantangan meskipun telah tercapai kesepakatan damai sementara.

“Masih akan sulit mendapatkan kapal karena tarifnya yang tinggi, dan saya memperkirakan kedua belah pihak juga perlu menyepakati klausul khusus dalam kontrak terkait pelayaran melalui selat tersebut,” ujarnya.

Baca Juga: Kolaborasi Apple-Intel Resmi Dimulai, Trump Dorong Industri Chip Nasional

Pada Kamis, Sinochem juga dilaporkan sedang mencari VLCC untuk memuat minyak dari kawasan Teluk pada periode 20–30 Juni dengan tujuan pengiriman ke Asia. Namun, hingga kini belum diketahui apakah perusahaan tersebut berhasil mendapatkan kapal yang dibutuhkan.

Baik PetroChina maupun Sinochem belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.

Indian Oil Gagal Mendapat Penawaran Kapal

Di sisi lain, Indian Oil Corp (IOC) juga mengalami kendala serupa. Menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, perusahaan penyulingan minyak terbesar di India itu tidak menerima satu pun penawaran dalam tender pekan lalu yang bertujuan menyewa VLCC untuk mengangkut minyak dari Irak pada 22–23 Juni menuju Pelabuhan Paradip di pesisir timur India.

Akibat tidak adanya kapal yang tersedia sesuai kebutuhan, IOC kemudian menerbitkan status force majeure atas pengiriman kargo tersebut.

Hingga berita ini ditulis, IOC juga belum memberikan tanggapan resmi terkait perkembangan tersebut.