PGAS Bakal Lunasi Utang dengan Kas Internal



JAKARTA. Menyadari kantongnya cukup tebal, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) akan melunasi utang-utangnya tahun ini dengan menggunakan kas internal. Hingga akhir tahun ini, PGAS juga tidak lagi berminat untuk menerbitkan surat utang ataupun mengajukan pinjaman ke perbankan. "Kami belum punya rencana menerbitkan obligasi," ujar M Riza Pahlevi, Direktur Keuangan PGAS, Senin (9/8).

Riza mengungkapkan, PGAS memiliki utang jatuh tempo sekitar US$ 70 juta, atau sekitar Rp 626,71 miliar (kurs US$ 1 = Rp 8.953).

Belakangan, PGAS memang gencar menata ulang komposisi utangnya. Akhir tahun lalu, PGAS juga sudah melunasi obligasinya, sebesar US$ 275 juta. Namun, pelunasan surat utang ini dilakukan dengan uang hasil pinjaman sindikasi bank yang dipimpin oleh Standard Chaetered Bank, dengan nilai yang sama. Dengan kata lain, PGAS membayar utang dengan utang baru (refinancing).


Saat ini, kreditur terbesar PGAS adalah Japan Bank For International Cooperation (JBIC) dengan total pinjaman senilai Rp 4,7 triliun. Dari jumlah pinjaman sebesar itu, sekitar ¥ 49,08 miliar baru mulai dicicil pada 2013 dan harus lunas pada 2043 nanti.

Meski utangnya lumayan jumbo, kas PGAS juga amat gendut. Per 31 Maret lalu saja, perusahaan distribusi gas ini memiliki dana kas dan setara kas sebesar Rp 8,1 triliun. Dana kas ini cukup besar mengingat perusahaan ini masih mengantongi laba ditahan senilai Rp 7,36 triliun.

Sayangnya, Riza belum bersedia mengungkapkan berapa dana kas yang tersedia hingga semester satu lalu. Ia beralasan, laporan keuangan PGAS masih dalam proses audit. Yang jelas, dia memastikan, pelunasan utang tahun ini cukup menggunakan dana internal perusahaan.

Saham layak koleksi

PGAS boleh saja bertekad tidak berutang lagi tahun ini. Tapi, anak usahanya, yaitu PT Transgasindo, tetap berniat mencari pinjaman.

Sekretaris Perusahaan PGAS Wahid Sutopo mengatakan, Transgasindo bermaksud menggunakan pinjaman tersebut untuk membiayai proyeknya. Sebut saja, pengembangan jaringan pipa gas Grissik-Singapura dan Batam-Singapura. Tapi, Wahid enggan mengungkapkan nominal kebutuhan dana perusahaan distribusi gas ini.

Analis Bahana Securities Pandu Anugrah menilai, PGAS memiliki likuiditas atau uang tunai yang cukup solid. Maka, ia optimistis, PGAS akan mampu melunasi utang-utangnya.

Namun, ia memperkirakan, tahun ini, pendapatan PGAS hanya akan tumbuh 10% menjadi sekitar Rp 19 triliun.

Rendahnya pertumbuhan pendapatan itu akibat mininya suplai gas ke PGAS. Pandu menduga, banyak produsen gas memilih menjual ke luar negeri ketimbang kepada PGAS. "Harga ekspor lebih menarik daripada tawaran PGAS," katanya.

Kendati demikian, Pandu menilai, saham PGAS masih layak untuk dikoleksi jangka panjang. Pandu memprediksi, hingga akhir tahun ini, harga saham PGAS berpotensi menjangkau level Rp 4.600 per saham. Kemarin (10/8), harga saham PGAS di bursa ditutup turun 0,61% ke level Rp 4.075 per saham.

Hingga 30 Juni 2010 lalu, sekitar 35%, saham PGAS dikuasai oleh institusi asing. Adapun Pemerintah Indonesia masih menguasai 56,96% saham perusahaan ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie