PGE (PGEO) Pacu Ekspansi Panas Bumi, Bidik Kapasitas 1 GW pada 2028



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mempercepat ekspansi untuk meraih kapasitas produksi listrik dari panas bumi sebesar 1 Gigawatt (GW) pada 2028.

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menjelaskan, saat ini kapasitas listrik perusahaan mencapai 727 Megawatt (MW). Untuk mencapai target kapasitas, perusahaan mengandalkan sejumlah proyek pengembangan dan ekspansi di wilayah kerja (WK) panas bumi yang telah dikelola.

Dari sisi operasional, PGEO mencatatkan pertumbuhan produksi listrik panas bumi sebesar 9,86% secara tahunan (year on year/YoY). Capaian ini didukung oleh peningkatan permintaan listrik dan kinerja aset.


Baca Juga: Tarif Listrik Ditahan, Piutang PLN Berpotensi Meningkat

Hingga September 2026, faktor ketersediaan pembangkit (availability factor) PGEO mencapai 98,51%, naik 0,39% YoY. Sementara itu, faktor kapasitas (capacity factor) tercatat sebesar 89,9%, meningkat 3,37% YoY. Adapun tingkat gangguan paksa pembangkit (forced outage rate) turun 48,39% YoY menjadi 0,21%.

Yani memerinci, wilayah kerja Kamojang mencatatkan produksi listrik sebesar 1.438 Gigawatt hour (GWh), tumbuh 8,4% YoY. Kinerja ini ditopang oleh peningkatan permintaan listrik untuk Unit 1–3 serta produksi yang lebih tinggi dari Unit 4–5. PGEO juga memperoleh tambahan pasokan uap sekitar 41 MW dari sejumlah sumur make-up di Kamojang.

Sementara itu, produksi listrik dari Ulubelu tercatat sebesar 1.218 GWh, turun 0,6% YoY. Penurunan ini dipengaruhi keterbatasan pasokan uap dan kegiatan pemeliharaan terjadwal selama 19 hari pada September 2026.

"Ulubelu ada koreksi karena ada pergeseran jadwal pemeliharaan dan sedikit penurunan pasokan uap. Namun, saat ini kami sudah melakukan workover atau pemeliharaan sumur untuk kembali meningkatkan produksi uap. Kami yakin menjelang akhir tahun produksi Ulubelu bisa meningkat lagi," ujar Yani dalam media briefing di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Adapun Lumut Balai mencatatkan produksi sebesar 702 GWh, melonjak 48,5% YoY. Peningkatan ini didorong oleh beroperasinya Lumut Balai Unit 2 sejak Juni 2025, serta tingginya permintaan listrik dari PLN di jaringan Sumatra. Faktor kapasitas wilayah kerja ini mencapai 102,30%, dengan kapasitas terpasang 110 MW.

"Capacity factor-nya sampai 102%, jadi di atas installed target contract-nya. Memang sebenarnya power plant kami punya excess sebesar 110% dari contract, di mana 10% itu dipakai untuk own use. Jadi, ada kemungkinan ketika PLN meminta lebih, kami bisa memberikan tambahan pasokan," kata Yani.

Di wilayah Lahendong, produksi listrik mencapai 658 GWh, tumbuh 2,3% YoY. Kenaikan tersebut didukung peningkatan penyaluran listrik seiring dengan meningkatnya permintaan listrik di jaringan Sulawesi Utara–Gorontalo.

Sementara itu, Karaha meraup produksi sebesar 98 GWh, naik 21,9% YoY. Peningkatan produksi ini ditopang tambahan pasokan uap dari Cluster TLG-3 serta kegiatan pengeboran sumur make-up dan workover. 

Selain itu, PGEO mulai menyiapkan pengembangan Lumut Balai Unit 4. Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk akses jalan menuju lokasi pengeboran sepanjang sekitar 10 kilometer (km).

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO Edwil Suzandi mengatakan, pembangunan infrastruktur dilakukan lebih awal agar kegiatan eksplorasi Lumut Balai Unit 4 dapat berjalan beriringan dengan pengembangan Lumut Balai Unit 3.

Dengan demikian, PGEO berharap pengembangan Unit 4 dapat langsung berlanjut setelah Lumut Balai Unit 3 mulai beroperasi secara komersial atau commercial operation date (COD).

"Harapannya, eksplorasi Lumut Balai 4 ini akan kami selesaikan pada fase pengembangan Lumut Balai 3. Jadi, pada saat Lumut Balai 3 COD, kami sudah bisa langsung melanjutkan proyek ke Lumut Balai 4," ujar Edwil.

Menurut dia, kesinambungan pengembangan proyek menjadi salah satu strategi PGEO untuk menjaga pertumbuhan kapasitas perusahaan. PGEO menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028–2029, meningkat menjadi 1,8 GW, dan dapat mencapai 3 GW pada 2034.

Edwil menyebut, pencapaian target tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan memastikan setiap tahapan pengembangan berjalan sesuai jadwal.

"Ultimate target kami 3 GW tapi tentunya ini proses-proses yang setiap milestone itu harus kami capai dahulu, baru kami bisa melihat target yang lebih tinggi lagi," tandasnya.

Baca Juga: Ojol Diminta Pakai Kendaraan Listrik, Driver Keluhkan Biaya Sewa Rp 70.000 per Hari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News