KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertamina Geothermal Energy (PGEO) mempercepat ekspansi di luar sektor panas bumi tahun ini. Direktur Utama (Dirut) PGEO, Ahmad Yani mengatakan bahwa pihaknya terus mengembangkan teknologi Flow2Max, yang merupakan teknologi alat ukur aliran fluida dua fasa (uap dan air) secara real-time, daring, dan berkelanjutan, yang bersama perusahaan asal Amerika, Ecolab. Teknologi ini memungkinkan pemantauan laju massa dan entalpi panas bumi secara presisi tanpa menghentikan operasi sumur, meningkatkan efisiensi energi, serta memprediksi kinerja reservoir dengan lebih akurat.
“Kita mengembangkan teknologi Flow2Max. Itu sudah diakui di enam negara. Kita sudah lakukan kerjasam di internal (dalam negeri) dengan Elnusa. Dan di luarnya kita kerjasama dengan Ecolab,” ungkap Ahmad Yani dalam kunjungannya ke kantor Kontan, Rabu (18/02/2026).
Baca Juga: Panas Bumi Dilirik Asing, Kepemimpinan Baru PGEO Diharap Percepat Pengembangan Untuk diketahui, saat ini Flow2Max telah mengantongi paten di enam negara, yaitu: Indonesia, Selandia Baru, Filipina, Islandia, Amerika Serikat, dan Turki. Khusus di Filipina, Ahmad Yani bilang Flow2Max milik PGEO telah dipasang pada proyek pembangkit panas bumi milik Energy Development Corporation (EDC). “Dua minggu lalu, tim kita install di Filipina, punya EDC. Mereka juga sudah penjajakan untuk jual-beli. Dari kesan pertamanya mereka puas. Mudah-mudahan kalau ini berjalan, ada potensi untuk 20 unit (Flow2Max),” tambahnya. Dalam penjualan Flow2Max, Ahmad Yani menyebut PGEO mendapatkan pendapatan melalui hak paten alat. “Kita dapat paten-nya. Dari sisi penjualan kemudian juga patent. Selama barang itu diinstall, kita dapat royalty,” tambahnya. Sebagai satu-satunya perusahaan di bawah naungan Pertamina yang memiliki core bisnis sektor panas bumi, ia menyebut, pendapatan dari Flow2Max memang masih kecil dibandingkan dengan pendapatan utama yang berasal dari penjualan listrik ke PLN.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Kendalikan 70% Panas Bumi Nasional, Fokus Proyek Hijau “Ini (Flow2Max) masuk ke pendapatan lain.-lain. Mungkin sekarang masih kecil, tapi dalam proyeksi kita 5 tahun ke depan, profit yang dihasilkan itu bisa mengimbangi biaya operasional di satu area (WKP),” ungkapnya. Jasa pengujian laboratorium juga tidak luput dari pengembangan bisnis. Lini jasa pengujian laboratorium PGEO ini menawarkan berbagai solusi analisis kepada pengembang panas bumi. Jasa yang ditawarkan meliputi pengambilan sampel panas bumi, analisis data sumur (
wireline logging), serta analisis kimia cairan dan padatan dari sumber panas bumi. “Lab juga tahun ini sudah bisa berbisnis. Jadi tidak hanya menjadi
call center, tapi juga sudah bisa sebagai
profit center. Kita sebutnya, analisa kimia,” ungkap dia. Dalam jangka panjang, Ahmad Yani mengungkap pendapatan yang berasal dari dua lini usaha baru ini dapat menyumbang pendapatan hingga 30% dari total pendapatan Perseroan.
Baca Juga: Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Siap Bangun Ekosistem Panas Bumi “Nanti ada turunan-turunan bisnisnya. Ini menopang keekonomian. Katakanlah bisa 30% saja dari bisnis utama. Dan resikonya tidak terlalu besar,” kata dia. Sebelumnya, dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2026, pendapatan PGEO diperkirakan naik sebesar 10,4–10,5% secara tahunan atau
year on year (yoy), dan kembali tumbuh 5,4% pada tahun berikutnya. “Pendapatan Perseroan dengan dilakukannya rencana ini diproyeksikan lebih tinggi, yaitu Rp10.929,60 miliar pada 2029, dengan rata-rata CAGR sebesar 12,7%,” terang manajemen PGEO. Sebagai gambaran, hingga kuartal III-2025, PGEO tercatat telah membukukan laba bersih USD 104,26 juta pada atau setara Rp 1,73 triliun (kurs Rp 16.624 per USD). Sementara pendapatan perusahaan naik senilai US$ 318,86 juta atau setara dengan Rp 5,3 triliun per kuartal III 2025. Angka tersebut lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebelumnya sebesar US$ 314,30 juta dan naik 4,2 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 306,02 juta.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Gandeng Toyota Kembangkan Ekosistem Green Hydrogen Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News