KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (
PGEO) memperluas pemanfaatan energi panas bumi di luar pembangkitan listrik. Ini dilakukan melalui pengembangan direct use untuk sektor industri dan pertanian, serta produksi green hydrogen. Direktur Operasi PGEO Andi Joko Nugroho mengatakan, panas bumi memiliki peluang lebih luas dibanding hanya sebagai sumber pembangkit listrik. Karena itu, PGEO mulai mengembangkan diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi. "Ke depan, fokus kami pada mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi," ujar Andi dalam The 5th ITB International Geothermal Workshop 2026, Senin (13/7/2026).
Menurut Andi, pemanfaatan langsung energi panas bumi dapat mendukung berbagai sektor industri yang membutuhkan pasokan energi bersih. PGEO juga melihat pengembangan
green hydrogen sebagai peluang bisnis baru di tengah transisi energi.
Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Siap Penuhi DMO Batubara PLN, Prioritaskan Pasokan Domestik Selain memperluas pemanfaatan panas bumi, PGEO mempercepat transformasi digital melalui pengembangan teknologi pengujian sumur. Teknologi tersebut ditujukan meningkatkan akurasi data, efisiensi operasi, serta mempercepat pengambilan keputusan. "Melalui penguatan inovasi, kolaborasi lintas sektor, serta perluasan pemanfaatan panas bumi, PGEO optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai
world-leading geothermal producer," kata Andi. PGEO juga akan mengoptimalkan aset panas bumi yang telah beroperasi. Pada saat yang sama, PGEO mengembangkan sumber pendapatan baru melalui diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi di luar bisnis pembangkitan listrik. Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), terbesar kedua di dunia. Menurut Andi, potensi tersebut menjadi modal untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung pengembangan industri rendah karbon. Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, PGEO menargetkan kapasitas pembangkit listrik panas bumi yang dikelola mandiri mencapai 1 GW pada 2028. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
"Kami akan terus mengoptimalkan aset eksisting, mendorong ekspansi bisnis, sekaligus mengembangkan berbagai sumber pendapatan masa depan melalui inovasi dan diversifikasi," ujar Andi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News