KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pemerintah Kabupaten Batang meluncurkan Program Minapadi Salin di Kawasan Pantai Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang. Program yang dijalankan melalui corporate social responsibility (CSR) PGN ini menjadi upaya kolaboratif untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan salin yang produktif dan berkelanjutan. Program ini sebelumnya telah diterapkan di wilayah pesisir utara Semarang yaitu Mangunharjo, lalu juga di Kabupaten Jepara berupa Padi Biosalin. Dan di Batang kali ini merupakan pengembangan dengan pendekatan yang lebih terintegrasi.
Baca Juga: KKP Percepat Pembangunan K-SIGN Rote Ndao untuk Kejar Swasembada Garam 2027 Untuk di Semarang, dari awal program seluas 20 hektar (ha), saat ini pengembangan lahan sudah mencapai lebih dari 115 hektar. Adapun di Jepara, realisasi panennya mencapai 22 hektar dari target 20 hektar dengan capaian ekonomi sekitar Rp1,23 miliar. Jika dikalikan keseluruhan nilai ekonomi yang sudah berjalan pada program Padi Biosalin adalah sekitar Rp 7,66 miliar. Pada pelaksanaan di Kabupaten Batang, Program Minapadi Salin tidak hanya mengintegrasikan budidaya padi biosalin, tetapi juga dikembangkan dengan komoditas ikan nila salin, serta rumput laut sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat pesisir. Peluncuran Program Minapadi Salin di Kabupaten Batang ini dihadiri oleh Bupati Batang M. Faiz Kurniawan, Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN RI Yopi, serta Deputi Bidang Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI Dandy Satria Iswara. Sebagai simbol dimulainya implementasi program, dilakukan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin yang dilanjutkan dengan penyerahan dan penanaman benih padi biosalin bersama para petani. Program ini dijalankan di lahan seluas 32,26 hektare yang dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Poktan Intani, dan Poktan Dewi Sri VI. Sementara komoditas rumput laut yang dibudidayakan dalam program ini adalah Gracilaria verrucosa, yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta adaptif terhadap kondisi perairan pesisir bersalinitas. Dalam tahap awal, penebaran dilakukan menggunakan bibit rumput laut sebanyak sekitar 30 kilogram. Panen perdana ditargetkan dapat dilakukan dalam waktu kurang lebih tiga bulan sejak penanaman, dengan potensi produktivitas mencapai hingga 5 kilogram hasil panen untuk setiap 1 kilogram (kg) bibit yang ditebar. Setelah panen awal, budidaya rumput laut direncanakan dapat dilanjutkan dengan pola panen berkelanjutan secara bertahap setiap 3–4 minggu, sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung pendapatan masyarakat secara berkesinambungan. Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, mengatakan program ini menjadi langkah strategis dalam memanfaatkan lahan salin yang selama ini kurang produktif menjadi kawasan pertanian dan perikanan bernilai ekonomi. “Kami mengapresiasi kolaborasi antara PGN, BRIN, dan berbagai pihak dalam menghadirkan Program Minapadi Salin di Kabupaten Batang. Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan salin yang lebih produktif,” ujar Faiz, Kamis (18/6/2026). Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN RI Yopi mengatakan bahwa Program Minapadi Salin menunjukkan bahwa hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata untuk menjawab tantangan di lapangan, khususnya pada lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya memulihkan produktivitas lahan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi kawasan. “BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah,” kata Yopi. Sementara itu Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menyatakan bahwa sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN tidak hanya berfokus pada penyediaan energi, tetapi juga berkomitmen menciptakan nilai tambah bagi masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan. Dengan budidaya padi biosalin di lahan terdampak salinitas di wilayah pesisir yang dipadukan dengan pemeliharaan ikan nila salin dalam satu hamparan lahan, serta diperkuat dengan budidaya rumput laut diharapkan dapat menjadi komoditas alternatif bernilai ekonomi. “Program Minapadi Salin merupakan wujud nyata komitmen tersebut, dengan mengintegrasikan inovasi pertanian dan perikanan, termasuk pengembangan komoditas rumput laut, untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Fajriyah.
Dengan dukungan teknologi pertanian berbasis riset yang dikembangkan BRIN, program ini menargetkan produktivitas padi mencapai 6-7 ton per hektare. Sementara itu, benih ikan nila salin diharapkan menghasilkan panen dengan bobot rata-rata sekitar 300 gram per ekor. Adapun budidaya rumput laut diharapkan dapat memberikan tambahan pendapatan melalui pola panen berkelanjutan yang relatif singkat. Ke depan, program ini juga akan diperkuat dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir sekitar lokasi budidaya sebagai upaya mitigasi abrasi pantai sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. “Kami ingin memastikan bahwa manfaat program ini tidak hanya dirasakan pada saat panen, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat. Dengan pendekatan terintegrasi antara pertanian, perikanan, dan pelestarian ekosistem pesisir, kami berharap tercipta keseimbangan antara peningkatan produktivitas, penguatan ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan,” kata Fajriyah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News