PGN (PGAS) Ekspansi CNG: Sasar Pasar Komersial, Rumah Tangga Hingga Dapur MBG



KONTAN.CO.ID - YOGYAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menggelar ekspansi di bidang layanan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG). Ekspansi bisnis dilakukan melalui skema klasterisasi jaringan gas (jargas) rumah tangga maupun CNG Point to Point dengan menggunakan tabung untuk pelanggan komersial.

Emiten bersandi saham PGAS di Bursa Efek Indonesia ini memacu ekspansi layanan dan bisnis CNG melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia. Melalui Gagas Energi, PGN menyasar pengembangan bisnis CNG di sejumlah wilayah, salah satunya di daerah Jawa Tengah Bagian Selatan dan Yogyakarta.

Direktur Utama Gagas Energi Indonesia Santiaji Gunawan mengungkapkan bahwa PGN telah membangun klasterisasi jargas berbasis CNG di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Klasterisasi tersebut telah melayani sebanyak 4.545 sambungan rumah tangga, enam pelanggan kecil, serta empat pelanggan komersial industri.


Baca Juga: Exabytes Kejar Target 1 Juta Bisnis Adopsi AI, UMKM Jadi Pasar Utama

Sementara untuk skema CNG Point to Point yang dikerjakan oleh Gagas Energi, saat ini telah melayani 20 pelanggan segmen komersial di Yogyakarta dan area Jawa Tengah Bagian Selatan. Gagas Energi telah menyalurkan sekitar 74.000 meter kubik (m³) gas CNG per bulan. 

Menurut Santiaji, potensi pengembangan pasar CNG di segmen komersial atau hotel, restoran dan cafe (horeca) cukup tinggi. Gagas Energi menargetkan pada tahun ini bisa menggaet pelanggan baru, sehingga volume penyaluran CNG akan bisa bertambah 10.000 m³ menjadi sekitar 84.000 m³ per bulan. 

Santiaji meyakini pengembangan layanan dan bisnis CNG memiliki prospek yang apik. Dia menyoroti keunggulan CNG dari sisi sumber pasokan gas yang berasal dari dalam negeri. Berbeda dengan Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang mayoritas masih tergantung kepada impor.

Di samping itu, CNG memiliki keunggulan dari sisi efisiensi biaya. "Kalau hitungan kami, (penghematan biaya dari CNG) itu sekitar 20% - 30%, tergantung pemakaiannya," ungkap Santiaji saat kunjungan ke fasilitas Pressure Regulating Station (PRS) Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

Meski begitu, Santiaji mengamini masih perlu ada sosialisasi untuk memperkenalkan CNG kepada masyarakat dan calon pelanggan, sekaligus meyakinkan keamanan (safety) karena produk gas ini memiliki tekanan yang tinggi. Dalam hal ini, Santiaji memastikan CNG yang sampai ke pelanggan sudah dalam posisi tekanan aman untuk digunakan.

Santiaji membeberkan bahwa CNG memiliki tekanan sekitar 200 bar. Gagas Energi kemudian mengurangi tekanan tersebut menjadi sekitar 3 bar melalui fasilitas PRS. Selanjutnya, Gagas Energi kembali menyesuaikan tekanan CNG tergantung segmen pelanggannya.

Baca Juga: Pemerintah Bidik 100% Rasio Elektrifikasi dalam 5 Tahun, Papua jadi Prioritas

Pada segmen rumah tangga, tekanan CNG kembali dikurangi melalui Regulating Station (RS), sehingga menjadi 0,3 bar. Tekanan CNG kembali berkurang dengan adanya regulator di masing-masing rumah, hingga menjadi hanya tersisa 0,03 bar.

"Mensosialisasikan CNG tidak mudah, menerangkan kepada pelanggan harus hati-hati. Kami tidak gegabah, tekanan yang 200 bar harus diminimalkan menjadi tekanan yang aman dan siap digunakan untuk horeca maupun rumah tangga," kata Santiaji.

Restoran masakan Padang, Payakumbuah Yogyakarta menjadi salah satu pelanggan CNG dari Gagas Energi. Manager Payakumbuah Yogyakarta, Adi Saputro, mengungkapkan bahwa pihaknya mendapatkan harga CNG sebesar Rp 13.500 per m³. Payakumbuah bisa menggunakan sebanyak 1.900 m³ - 2.000 m³ per bulan.

Adi menghitung, penghematan biaya memakai CNG bisa mencapai sekitar 30%. "Jadi kalau pakai energi lain, misalkan bisa sampai Rp 40 jutaan per bulan. Pakai CNG hanya sekitar Rp 25 juta - Rp 27 juta," ungkap Adi.

Soal biaya, Santiaji mengungkapkan bahwa harga CNG memiliki beberapa kategori. Penentuan kategori harga tergantung dari batas volume pemakaian bulanan. Selain itu, faktor biaya transportasi juga menjadi salah satu komponen dalam penentuan harga.

"Ada batas-batasan yang ditetapkan. Kalau berlangganan dengan volume sekian, harganya sekian. Kami sesuaikan juga jaraknya, karena antar 50 km dengan 100 km kan biaya transportasinya beda. Kecuali di situ sudah ada klaster. Karena itu kami sedang membangun klaster-klaster horeca supaya ada efisiensi harga dan keekonomian yang optimal di kami dan pelanggan," terang Santiaji. 

Dalam skema CNG Point to Point pada segmen komersial, Gagas Energi menyediakan tabung serta peralatan yang diperlukan. Gagas Energi akan mengganti tabung atau mengisi ulang CNG sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Santiaji memastikan operasional dan perawatan dilakukan oleh petugas yang sudah tersertifikasi.

Baca Juga: Astra Otoparts Bidik Peluang Bisnis Aki dari Tren Kendaraan Listrik

"CNG itu bisnis dengan paparan risiko tinggi. Jadi CNG itu aspek safety-nya benar-benar harus pasti. Kompetensi sumber daya manusia juga kami perhatikan sampai ke driver-nya, nggak bisa asal-asalan. Jadi operator Gagas bersertifikat dan sudah ahli dalam bidang CNG," kata Santiaji.

Adapun, ukuran tabung CNG untuk segmen komersial mencapai 180 kilogram (kg). Santiaji mengatakan bahwa sampai saat ini tabung CNG masih tergantung pada impor, terutama dari China dan Eropa. Oleh sebab itu, Pertamina Group telah menjalin Joint Study Agreement (JSA) dengan PT Pindad (Persero) untuk mengembangkan tabung CNG produksi dalam negeri.

"Sedang meneliti kajian bagaimana menghasilkan CNG tabung yang bisa diproduksi di dalam negeri, terutama di Pindad. Jadi Pertamina Group, termasuk kami, sudah punya JSA. Mudah-mudahan nanti di akhir tahun sudah muncul sebuah produk yang bisa dipakai, karena kajiannya terus diproses supaya harus safety-nya (terjamin)," ungkap Santiaji.

Sebagai informasi, PGN melalui Gagas Energi telah mengelola dan mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas (SPBG)/Mother Station serta 4 Mobile Refueling Unit (MRU). Gagas Energi memiliki dua produk, yakni Gasku untuk Bahan Bakar Gas (BBG) yang menyasar sektor transportasi, serta Gaslink untuk sektor industri dan komersial.

Siap Dukung Program Pemerintah

Selain menyasar pelanggan segmen industri, komersial dan rumah tangga, Gagas Energi juga siap melayani kebutuhan CNG untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Santiaji mengungkapkan saat ini Gagas Energi telah memasok CNG untuk 46 SPPG.

Gagas Energi telah melayani dapur MBG di sejumlah daerah yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Batam. 

"Tiga bulan lalu, kami sudah sosialisasi terbuka, bagaimana penggunaan CNG untuk SPPG. Alhamdulillah setelah itu banyak yang memakai, dari 30  bertambah, sekarang ada 46 (SPPG)," kata Santiaji.

Hanya saja, pengembangan CNG untuk kebutuhan SPPG masih terkendala oleh infrastruktur, terutama SPBG atau mother station untuk pengisian CNG yang masih belum merata.

"Kendalanya itu, tidak semua lokasi ada SPBG. Tapi kami terus mendorong supaya CNG bisa digunakan di lebih banyak wilayah," ungkap Santiaji.

Baca Juga: Pelangi Indah Canindo (PICO) Gandeng POSCO Amankan Pasokan Bahan Baku Baja

Di sisi yang lain, pemerintah saat ini sedang menggarap program CNG Tabung sebagai alternatif untuk mengurangi pemakaian LPG Subsidi 3 kg. Sebagai bagian dari Subholding Gas Pertamina, Santiaji menyatakan kesiapan dari Gagas Energi untuk mendukung program tersebut.

Hanya saja, Santiaji belum membeberkan secara rinci mengenai peran dan kontribusi Gagas Energi dalam program CNG Tabung pengganti LPG Subsidi 3 kg tersebut. Santiaji menyoroti bahwa salah satu hal yang menjadi pembahasan pokok bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adalah aspek keamanan.

"Itu kan sedang dikaji ya, kami ikut pemerintah saja. Karena itu ide bagus, bagaimana nanti CNG mengurangi impor LPG. Kami sampaikan aspek safety. Alhamdulillah Kementerian (ESDM) mengkaji terus aspek safety-nya, supaya nanti yang disampaikan ke masyarakat adalah barang yang sudah dengan aspek safety tinggi," tandas Santiaji. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News