PGN (PGAS) Kian Solid di 2026, Analis Jagokan Midstream–Downstream dan Peran LNG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fundamental bisnis PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) diproyeksikan semakin solid pada 2026, seiring strategi perseroan yang fokus memperkuat lini bisnis midstream dan downstream.

Emiten berkode saham PGAS ini dinilai mampu menjaga ketahanan pasokan di tengah tantangan penurunan alami (natural decline) dari sumur-sumur gas konvensional.

Analis RHB Sekuritas Arandi Pradana dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN berhasil menjaga stabilitas volume niaga dan transmisi sepanjang 2025.


Baca Juga: Laba Astra Agro Lestari (AALI) Tahun 2025 Naik 28%, Ini Pendorongnya

Capaian itu ditopang integrasi infrastruktur pipa dan Liquefied Natural Gas (LNG) yang menjadi kunci resilience bisnis di tengah dinamika transisi energi.

Keberhasilan menciptakan jaminan pasokan (security of supply) bagi seluruh sektor pelanggan menjadi landasan optimisme kinerja 2026.

“Kami memproyeksikan volume distribusi gas PGN tumbuh sekitar 3% secara tahunan (YoY) menjadi 875 BBTUD pada 2026. Pertumbuhan ini didorong permintaan industri yang stabil serta penambahan pelanggan baru di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujar Arandi dikutip pada Senin (23/2/2026).

LNG Jadi Penopang, 14 dari 22 Kargo Sudah Diamankan

Strategi PGN mengamankan kargo LNG sebagai substitusi atas penurunan pasokan gas pipa, khususnya dari Blok Corridor, dinilai sebagai langkah taktis.

Pada 2026, PGN menargetkan penyaluran sekitar 22 kargo LNG yang diperkirakan menyumbang 20% dari total volume distribusi.

Baca Juga: Rupiah Menguat di Awal Pekan, Sentimen Tarif Global Jadi Sorotan

Dari target tersebut, sebanyak 14 kargo telah secured kontraknya sejak awal tahun, memberikan visibilitas yang jelas terhadap kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan pelanggan.

Di sisi transmisi, RHB memperkirakan pertumbuhan 4% YoY menjadi 1,6 bscfpd, ditopang peningkatan volume trading dan integrasi pengaliran gas antarwilayah.

RHB Sekuritas merekomendasikan NETRAL untuk saham PGAS dengan target harga Rp 2.100, mencerminkan valuasi wajar dan potensi dividend yield sekitar 6%.

 
PGAS Chart by TradingView

Ajaib: PGN Tetap Relevan dalam Transisi Energi

Pandangan positif juga disampaikan analis Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly. Dalam riset bertajuk Staying Relevant Rizal menilai, posisi PGN sebagai operator dominan transmisi dan distribusi gas nasional memberikan keunggulan kompetitif yang sulit disaingi.

Baca Juga: IHSG Menguat 1,5% ke 8.396 pada Senin (23/2/2026), BRPT, UNVR, EXCL Top Gainers LQ45

“Gas bumi tetap menjadi bahan bakar transisi yang kritikal di tengah percepatan energi terbarukan. Dengan pasokan domestik yang mengetat, peran LNG diperkirakan naik menjadi 18%–20% dari bauran pasokan PGN pada 2026,” jelasnya.

Rizal menambahkan, mekanisme pencampuran (blending) antara gas pipa dan LNG memungkinkan PGN menjaga harga jual rata-rata (ASP) tetap kompetitif bagi industri sekaligus mempertahankan margin.

Meski ada tekanan biaya dari porsi LNG yang lebih besar, pertumbuhan volume transmisi dan trading sebesar 4% dipandang mampu menjadi penyeimbang.

Ajaib Sekuritas memberikan rekomendasi BUY untuk PGAS dengan target harga Rp 2.500, mencerminkan potensi upside valuasi dari peningkatan keamanan pasokan dan arus kas yang stabil.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 16.802, Ini Sentimen Pendorong dan Proyeksi Selasa (24/2)

Midstream–Downstream Jadi Andalan

Sejalan arahan Danantara, fokus PGN pada penguatan midstream meliputi pipa transmisi, FSRU, dan terminal regasifikasi serta downstream seperti jaringan gas kota dan industri dinilai sebagai strategi tepat.

Penguasaan infrastruktur ini membuat PGN relatif lebih tahan terhadap volatilitas sektor hulu. Dengan pengembangan infrastruktur gas bumi yang berkelanjutan, peran PGN semakin strategis dalam menjamin ketersediaan energi dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Selanjutnya: Wall Street Futures and Dollar Slide on Trump Tariff Tumult

Menarik Dibaca: Harga Emas Dunia Lanjut Naik di atas US$ 5.100, Terpicu Tarif AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News