Phapros Jadi Sorotan Komisi VI DPR dalam Penguatan Industri Farmasi Nasional



KONTAN.CO.ID - Komisi VI DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke Pabrik PT Phapros Tbk di Simongan, Semarang, Jumat (10/7/2026), guna meninjau kesiapan industri farmasi nasional dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku obat impor sekaligus memperkuat kemandirian sektor farmasi.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Badan Pengelola (BP) BUMN, PT Danantara Asset Management, PT Bio Farma (Persero), dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk sebagai bagian dari fungsi pengawasan terhadap tata kelola BUMN farmasi.

Baca Juga: B50 Mulai Berlaku, Aptrindo Khawatir Biaya Operasional Truk Makin Berat


Salah satu fokus utama kunjungan adalah mengevaluasi capaian program substitusi bahan baku obat impor menjadi produksi dalam negeri di lingkungan Kimia Farma Group, sekaligus meninjau kesiapan operasional dan kinerja Phapros sebagai salah satu fasilitas produksi strategis.

Ketua Komisi VI DPR RI sekaligus Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Anggia Erma Rini mengatakan, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat masih cukup tinggi sehingga menjadi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian industri farmasi nasional.

Menurutnya, potensi bahan baku lokal perlu dioptimalkan, termasuk melalui pengembangan bahan baku berbasis herbal dan pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia yang didukung riset yang kuat.

"Sinergi lintas kementerian dan BUMN sektor farmasi perlu diperkuat, khususnya antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, dan Bio Farma Group agar kebijakan yang diambil benar-benar mendukung penggunaan produk dalam negeri. Penggunaan obat produksi nasional dalam program pemerintah juga perlu ditingkatkan," ujar Anggia dalam keterangannya Selasa (14/7/2026).

Baca Juga: Whoosh Layani 573.780 Penumpang Selama Periode Libur Sekolah

Ia menambahkan pemerintah perlu memiliki data yang akurat mengenai porsi penggunaan obat produksi dalam negeri dalam berbagai program kesehatan nasional.

Selain itu, Anggia menilai BUMN farmasi harus terus meningkatkan daya saing melalui inovasi, pengembangan produk baru, dan peningkatan kualitas agar mampu bersaing dengan produk impor.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi VI DPR juga mengevaluasi efektivitas sinergi antara BP BUMN, Danantara Indonesia, dan Bio Farma Group dalam pengelolaan aset serta pembiayaan investasi industri hulu farmasi.

Selain itu, DPR mengidentifikasi berbagai tantangan struktural yang masih dihadapi industri bahan baku obat nasional, mulai dari keterbatasan skala ekonomi, penguasaan teknologi, hingga sumber daya manusia.

Melalui peninjauan lapangan dan dialog dengan para pemangku kepentingan, Komisi VI berupaya memperoleh gambaran menyeluruh mengenai koordinasi antarinstansi, mulai dari pembinaan BUMN, pengelolaan aset, kapasitas produksi dalam negeri, hilirisasi hasil riset, hingga sinergi antar-BUMN farmasi.

Baca Juga: Industri Kaca Lembaran Optimistis Menatap Semester II 2026

Danantara Tekankan Penguatan Keuangan

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Business PT Danantara Asset Management Febriani Eddy mengatakan, penguatan industri farmasi harus dimulai dari kondisi keuangan perusahaan yang sehat.

Menurutnya, pada 2025 Danantara menjalankan 21 program strategis, termasuk program penyehatan BUMN farmasi yang akan berlanjut pada tahun berikutnya.

"Kemandirian industri farmasi harus dimulai dari penguatan kondisi keuangan perusahaan," ujar Febriani.

Ia juga menekankan pentingnya membangun skala ekonomi agar pengembangan industri bahan baku obat dalam negeri dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Baca Juga: Infrastruktur Gas Lamban, Pasar Ekspor Masih Jadi Tumpuan Blok Masela

Kinerja Phapros Menguat

PT Phapros Tbk, yang berdiri di Semarang sejak 1954, saat ini memproduksi lebih dari 200 jenis produk farmasi. Salah satu produk andalannya, Antimo, masih memimpin pangsa pasar pada kategorinya.

Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, Phapros juga menjalankan kerja sama contract manufacturing dan telah mengekspor produknya ke Kamboja sejak 2013.

Dalam kunjungan tersebut, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Shadiq Akasya turut memaparkan strategi memperkuat ketahanan industri farmasi nasional.

Kegiatan juga dihadiri Deputi Bidang Peningkatan Nilai BUMN BP BUMN Endra Gunawan, Direktur Utama PT Kimia Farma (Persero) Tbk Djagad Prakasa Dwialam, serta Direktur Utama PT Phapros Tbk Intan Abdams Katoppo.

Sebagai anak usaha PT Kimia Farma (Persero) Tbk, Phapros mencatatkan laba bersih sebesar Rp761,5 juta pada kuartal I 2026.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya kinerja perusahaan di tengah transformasi BUMN farmasi dan upaya memperkuat daya saing industri farmasi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News