PHE ONWJ minta Jokowi pindahkan pelabuhan Cilamaya



JAKARTA. PT Pertamina Hulu Energi ONWJ berharap pemerintahan baru, Joko Widodo-Jusuf Kalla meninjau ulang lokasi pembangunan Pelabuhan Cilamaya. Proyek tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu produksi migas nasional, dan keselamatan para pekerja lepas pantai (offshore).  "Kami di sini semua mengharapkan supaya Presiden baru lebih mengerti, bahwa lebih gampang mencari lokasi pelabuhan baru daripada mencari sumur gas baru," kata Communication and Relations Manager PHE ONWJ, Donna M Priadi, kepada wartawan, Sabtu (11/10). Ia menjelaskan, ancaman tersebut karena alur pelayaran kapal-kapal besar nantinya akan melalui ratusan platforms, dan ribuan kilometer pipa migas (pipelines), serta titik cadangan migas (conductor), dan belasan anjungan yang dihuni para pekerja (man floating).  "Kami enggak ada urusan sama pelabuhannya. Pemerintah bangun pelabuhan tidak ada masalahnya bagi kami. Tetapi, masalahnya adalah yang lewat di tengah-tengah fasilitas kami adalah kapal-kapal besar, dan ini resiko keselamatan dan keamanannya sangat tinggi," katanya. Donna menyebutkan, saat ini PHE ONWJ memiliki 223 platforms, di mana setiap platform terdiri dari 4-6 sumur migas. Platform berpenghuni atau dinamakan man floating, ada sebelas. Panjang pipelines PHE ONWJ jika direntangnya sepanjang hampir 2000 kilometer, dan tiap hari pipa-pipa ini menyalurkan 8.000 barel minyak, serta 448 juta kaki kubik gas.  Sementara itu, conductor sebagai penanda adanya sumber migas, secara keseluruhan menyimpan cadangan hingga 750 juta barel oil equivalen, yang masih bisa diambil sampai 30-40 tahun ke depan. Pelayaran kapal-kapal besar berkapasitas 13.000 TEUs sangat membahayakan operasi migas offshore.  Donna menjelaskan, tinggi platform PHE ONWJ maksimal 12 meter, sedangkan tinggi kapal bagian bawah saja sudah mencapai 15 meter. Apalagi, kapal-kapal besar tidak mungkin bisa mengerem mendadak. Sementara di kanan-kiri jalur pelayaran banyak sekali fasilitas tersebut di atas, yang bakal menyulitkan kapal bermanuver.  Saat ini, sebutnya, terdapat 700 orang yang bekerja di man floating dan platform-platform ONWJ. Para pekerja PHE ONWJ tersebut bekerja selama 12 hari di laut, untuk mengecek platforms, dan 12 hari libur.  Para pekerja ini berkepentingan untuk memastikan produksi migas PHE ONWJ untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) serta gas DKI Jakarta dan wilayah Jawa bagian barat. Donna menuturkan, saat ini produksi migas PHE ONWJ mencapai 42.000 barel oil per day (BOPD). Produksi PHE ONWJ utamanya disalurkan ke Muara Karang, Tanjung Priok untuk pembangkit listrik PLN.  Selain itu, PHE ONWJ juga mengalirkan gas ke Balongan, Pupuk Kujang, Krakatau Steel, serta pemasok bahan bakar gas (BBG) untuk transjakarta. Proyek Pelabuhan Cilamaya, dapat mengganggu produksi PHE ONWJ, bukan lantaran lokasi pelabuhannya, melainkan alur pelayaran Ultra Large Container Ship-nya. Pasalnya, selain melalui man floating yang dihuni ratusan orang tadi, alur pelayaran kapal-kapal besar berkapasitas 13.000 TEUs ini melalui pipa-pipa migas, serta platforms PHE ONWJ.  "Di antara batas west dan east area, yang jadi alur pelayaran ini ada banyak sekali pipa. Jadi kalau ada yang bocor satu saja, inspeksInya harus dicek satu per satu," lanjut Donna. (Estu Suryowati) Selain platforms dan yang telah disebutkan tadi, alur pelayaran juga melalui conductor PHE ONWJ. Conductor ini adalah lokasi di mana ditemui sumber migas, namun belum dilakukandevelopment. Donna mengatakan, cadangan migas PHE ONWJ mencapai 750 juta barel oil equivalen, yang masih bisa diambil sampai 30-40 tahun ke depan. (Estu Suryowati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Hendra Gunawan