KONTAN.CO.ID - Philip Morris International (PMI) kembali memangkas proyeksi laba tahunannya untuk ketiga kalinya pada 2026. Revisi tersebut dipicu semakin ketatnya persaingan di pasar produk tembakau bebas asap, khususnya kantong nikotin (nicotine pouch), serta dampak negatif pelemahan nilai tukar mata uang.
Baca Juga: Impor Minyak Nabati India Diproyeksi Naik hingga Oktober, Harga CPO Bakal Menguat Menyusul pengumuman tersebut, saham Philip Morris turun sekitar 1% pada perdagangan prapasar (
premarket) Rabu (22/7/2026). PMI kini memperkirakan laba per saham (
adjusted earnings per share/EPS) sepanjang 2026 berada di kisaran US$ 8,26 hingga US$ 8,41, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar US$ 8,31 hingga US$ 8,46. Di sisi lain, perusahaan menyatakan akan terus berinvestasi pada produk kantong nikotin Zyn setelah memperoleh persetujuan regulasi terbaru. Belakangan, regulator Amerika Serikat mengambil sikap yang lebih terbuka terhadap produk kantong nikotin. Sejumlah varian Zyn bahkan diizinkan dipasarkan dengan klaim memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 4%, Konflik Mengancam Jalur Transit Minyak Utama Meski demikian, meningkatnya persaingan dan tekanan harga di segmen tersebut menimbulkan kekhawatiran atas kemampuan PMI mempertahankan dominasinya di pasar. Salah satu pesaing utama datang dari British American Tobacco melalui produk Velo. Sebagai respons, PMI meluncurkan Zyn Ultra, varian kantong nikotin dengan kadar lebih tinggi, pada Juni lalu. Produk tersebut dipasarkan dengan harga per kantong yang lebih rendah dibandingkan produk unggulan Zyn sebagai upaya mempertahankan pangsa pasar.
Terlepas dari penurunan proyeksi laba, kinerja operasional PMI masih menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan perusahaan pada kuartal II-2026 naik 10,4% menjadi US$ 11,19 miliar, melampaui estimasi analis sebesar US$ 10,63 miliar, berdasarkan data LSEG.
Baca Juga: Samsung Jajaki Investasi hingga 1 Miliar Euro di Startup AI Mistral Philip Morris dalam beberapa tahun terakhir terus menggelontorkan investasi untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis rokok konvensional dan memperluas portofolio produk bebas asap. Namun, pesatnya pertumbuhan pasar kantong nikotin juga memicu persaingan yang semakin sengit di industri tersebut.