KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali terjadi di sektor industri baja. Kali ini, penutupan operasional PT Krakatau Osaka Steel (KOS) di Cilegon berujung pada PHK ratusan pekerja. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, mengungkapkan pihaknya telah menerima laporan terkait kondisi tersebut dari jaringan serikat pekerja di lapangan. Ia menyebut, penutupan perusahaan dipicu oleh turunnya permintaan pasar. "Penutupan perusahaan yang dilaporkan oleh pengusaha kepada buruh karena proses daya beli atau permintaan. Daya beli atau permintaan dari customer menurun,” ujarnya saat dihubungi Kontan, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: Menteri ESDM Siapkan CNG Jadi Alternatif LPG, Harga Lebih Murah Sampai 30% Menurut Said Iqbal, sebelumnya permintaan baja masih ditopang proyek-proyek infrastruktur seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan jalan tol. Namun, ketika proyek tersebut melambat, permintaan baja ikut menurun sehingga berdampak pada kinerja perusahaan. KSPI mencatat, jumlah pekerja yang terdampak PHK di KOS mencapai 161 orang. Ia menambahkan, para pekerja disebut telah menerima hak-haknya sesuai ketentuan, termasuk pesangon. "Hak-hak buruhnya sudah diberikan dua kali aturan,” kata dia. Selain itu, sebagian kecil pekerja juga ditawari kesempatan bekerja di fasilitas Osaka Steel di Jepang. Lebih lanjut, Said Iqbal menilai tekanan di industri baja tidak lepas dari persaingan dengan produk impor, khususnya dari China. Harga baja impor yang jauh lebih murah membuat produk dalam negeri sulit bersaing di pasar domestik. “Karena dia kalah bersaing dari sisi harga, dimana pasar domestik kita dikuasai oleh impor baja dari China, maka permintaan turun. Kalau permintaan turun berarti efisiensi, PHK,” jelasnya. Ia juga menyoroti praktik dumping dan subsidi dari pemerintah China yang membuat harga baja ekspor semakin kompetitif. Kondisi ini dinilai memperparah tekanan terhadap produsen lokal.
Baca Juga: HKI Soroti Penyebab Realisasi Investasi di KEK dan PSN Tersendat KSPI memperingatkan, fenomena ini tidak hanya terjadi di Krakatau Osaka Steel, tetapi juga mulai terlihat di sejumlah perusahaan baja lain. Bahkan, beberapa pabrik disebut telah diambil alih investor asing. Di luar sektor baja, risiko PHK juga dinilai mengintai industri lain seperti semen, tekstil, dan plastik. Faktor seperti kelebihan pasokan (
oversupply), kenaikan biaya energi, hingga mahalnya bahan baku impor menjadi pemicu tambahan.
Said menilai, tanpa langkah intervensi yang kuat, gelombang PHK berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. KSPI pun mendorong pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat agar permintaan industri kembali pulih. “Karena hanya dengan daya beli itulah industri akan tumbuh,” tegasnya. Selain itu, KSPI juga menyoroti gejala deindustrialisasi, di mana penyerapan tenaga kerja lebih banyak terjadi di sektor informal dibandingkan sektor formal seperti manufaktur. Menurut Said, kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan kembali sektor industri nasional agar mampu menyerap tenaga kerja secara lebih berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News