KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mencapai 8.389 pekerja sepanjang Januari–April 2026 dinilai dipicu tekanan global yang kian kuat terhadap sektor riil. Industri manufaktur disebut menjadi sektor paling rentan, seiring kombinasi pelemahan permintaan dan lonjakan biaya produksi. Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, menilai kondisi global yang tidak pasti telah mengganggu arus kas perusahaan dan memaksa pelaku usaha melakukan efisiensi.
Baca Juga: BI: Penjualan Eceran 3 hingga 6 Bulan ke Depan Akan Meningkat “Tekanan global ini nyata.
Cashflow perusahaan terganggu, biaya produksi naik, akhirnya yang paling cepat dilakukan efisiensi tenaga kerja,” ujarnya kepada Kontan, Senin (13/4/2026). Menurutnya, sektor manufaktur terutama industri dasar menjadi yang paling terdampak karena sangat sensitif terhadap fluktuasi pasar internasional. Tekanan ini mulai menjalar ke sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki. Kenaikan harga bahan baku turut memperparah situasi. Trubus mencontohkan lonjakan harga plastik hingga sekitar 50% yang membebani industri, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah. “Kalau biaya produksi melonjak, ruang bertahan perusahaan makin sempit. PHK jadi pilihan yang sulit dihindari,” katanya. Ia juga menilai kebijakan pemerintah belum cukup kuat menahan laju PHK karena masih bersifat imbauan kepada sektor swasta. “Tidak mengikat. Perusahaan tetap bisa melakukan PHK dengan alasan efisiensi atau penurunan kinerja,” ujarnya.
Baca Juga: Pertumbuhan Kinerja Penjualan Eceran Diramal Melambat Jadi 2,4% Pada Maret 2026 Ke depan, ia memperingatkan potensi PHK masih terbuka, terutama jika tekanan global berlanjut dan biaya produksi tidak ditekan. Ia mendorong pemerintah segera memperluas akses ekspor serta memberikan insentif bagi dunia usaha. Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) juga melihat sinyal PHK lanjutan mulai muncul di lapangan. Presiden KSPI Said Iqbal menyebut sejumlah perusahaan telah memberi peringatan dini kepada pekerja. “Dari laporan anggota, perusahaan sudah memberi sinyal akan ada PHK jika kondisi global memburuk,” ujarnya. Menurutnya, kenaikan biaya energi dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi pemicu utama, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. “Kalau biaya produksi naik, yang paling cepat diefisienkan pasti tenaga kerja,” tegasnya.
Sektor padat karya seperti tekstil, garmen dan alas kaki disebut paling rentan, disusul industri otomotif. Efisiensi bahkan sudah mulai berjalan melalui tidak diperpanjangnya kontrak pekerja. “Kontrak tidak diperpanjang, itu tanda awal PHK sudah terjadi,” katanya.
Baca Juga: Gejolak Iran–AS Picu Tekanan Global, ASEAN Siapkan Strategi Tahan Guncangan KSPI juga menyoroti tekanan dari kebijakan impor serta potensi dampak dari perusahaan induk global yang dapat memicu penutupan pabrik di Indonesia. Serikat pekerja memperkirakan potensi PHK riil bisa lebih besar dari data resmi pemerintah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News