PHRI Proyeksikan Industri Pariwisata 2026 Berat, Kuartal II Jadi Penentu



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memproyeksikan industri pariwisata nasional masih menghadapi tekanan sepanjang 2026.

Konflik geopolitik global, kenaikan harga tiket pesawat, hingga pelemahan daya beli masyarakat dinilai menjadi tantangan utama, terutama memasuki kuartal II-2026.

Baca Juga: PHRI Waspadai Dampak Geopolitik dan Harga Tiket Pesawat terhadap Pariwisata 2026


Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan, pertumbuhan wisatawan mancanegara (wisman) pada kuartal I-2026 sebenarnya masih cukup positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kalau kita perhatikan di kuartal I 2026 itu memang dibandingkan dengan kuartal I 2025 terjadi pertumbuhan wisatawan mancanegara kita,” ujar Maulana kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).

Menurut dia, pada awal tahun harga avtur global masih relatif stabil dan dampak konflik Timur Tengah belum terlalu terasa terhadap industri perjalanan.

Namun kondisi tersebut mulai berubah pada kuartal II seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan tersebut.

“Pada saat kuartal II ini yang dihadapi tantangan geopolitiknya sudah ada, kemudian perang Timur Tengahnya sudah mulai berdampak seperti meningkatkan harga avtur,” katanya.

Baca Juga: Ketegangan Geopolitik dan Harga Tiket Mahal Berpotensi Menekan Sektor Pariwisata

PHRI menilai kenaikan harga avtur global akan mendorong biaya perjalanan wisata menjadi semakin mahal, baik bagi wisatawan asing maupun domestik.

“Harga avtur itu kan tidak meningkat hanya di Indonesia saja, tapi seluruh dunia. Dampaknya adalah peningkatan biaya perjalanan atau cost of travelling,” ujar Maulana.

Selain kenaikan biaya perjalanan, gangguan frekuensi penerbangan dari kawasan Timur Tengah juga dinilai berpotensi mengganggu arus wisatawan internasional menuju Indonesia.

Karena itu, PHRI mendorong pemerintah dan pelaku industri memperkuat pasar wisatawan dari kawasan Asia yang tidak terlalu terdampak konflik jalur Timur Tengah.

“Tentu yang harus kita kejar itu wilayah-wilayah Asia, pasar-pasar yang lebih dekat yang tidak melalui Timur Tengah,” katanya.

Baca Juga: Habis pada Mei 2026, Weda Bay Nickel Tunggu Tambahan Kuota Produksi dari Revisi RKAB

Di sisi lain, PHRI juga menilai industri hotel masih menghadapi tekanan akibat penurunan perjalanan bisnis atau business traveler seiring efisiensi anggaran pemerintah.

Menurut Maulana, pasar terbesar industri hotel selama ini berasal dari segmen korporasi dan perjalanan dinas, bukan wisata leisure.

“Jujur saja sebenarnya market terbesar kita adalah market korporasi,” ujarnya.

PHRI mencatat, industri hotel pada 2025 masih mengalami kontraksi sekitar 3,9%, sehingga pemulihan sektor ini belum sepenuhnya terjadi pascapandemi Covid-19.

Karena itu, PHRI merevisi ekspektasi pertumbuhan industri pariwisata tahun ini menjadi lebih moderat.

“Di 2026 ini kita berharap paling tidak bisa tumbuh 5 persen saja sudah Alhamdulillah,” kata Maulana.

Baca Juga: Danantara Jawab Kekhawatiran Eksportir Sawit dan Batu Bara Soal DSI

Menurut PHRI, Bali masih menjadi penopang utama okupansi hotel dan kunjungan wisatawan asing sepanjang kuartal I-2026.

Sementara Pulau Jawa tetap mendominasi perjalanan wisata domestik karena aktivitas ekonomi dan bisnis yang lebih besar dibandingkan wilayah lain.

Ke depan, PHRI meminta pemerintah memperluas pemerataan pengembangan destinasi wisata agar pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya bertumpu pada Bali dan Jawa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News