KONTAN.CO.ID - Piala Dunia 2026 resmi berakhir pada Minggu (19/7/2026) dengan Spanyol keluar sebagai juara dunia setelah menundukkan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu di Stadion New York New Jersey. Turnamen yang untuk pertama kalinya diikuti 48 tim dan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadirkan sejumlah catatan penting, mulai dari keberhasilan format baru hingga berbagai kontroversi di luar lapangan.
Baca Juga: Harga Tembaga Naik 0,5% Senin (20/7), Impor China dan Pasokan Ketat Jadi Penopang Berikut 10 pelajaran utama dari Piala Dunia 2026: 1. Format 48 tim menghadirkan lebih banyak pertandingan, tetapi kekuatan tradisional tetap dominan Penambahan peserta menjadi 48 negara menghasilkan lebih banyak pertandingan, gol, dan rekor baru. Namun, persaingan menuju gelar tetap dikuasai negara-negara elite. Empat semifinalis seluruhnya berasal dari empat besar peringkat FIFA, yakni Argentina, Spanyol, Prancis, dan Inggris. 2. Tetap ada kisah kejutan dari tim nonunggulan Meski tim-tim besar mendominasi, beberapa negara mencuri perhatian. Cape Verde, yang tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia, berhasil menahan imbang Spanyol dan Uruguay serta memaksa Argentina bermain hingga perpanjangan waktu. Norwegia juga tampil menghibur dan untuk pertama kalinya melaju ke perempat final.
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Bikin Investor Waspada, Dolar AS Masih Bergerak Datar 3. Amerika Serikat berhasil menghapus banyak keraguan sebagai tuan rumah Sebelum turnamen dimulai, muncul kekhawatiran terkait proses visa, keamanan, hingga minimnya minat masyarakat Amerika terhadap sepak bola. Namun selama turnamen berlangsung, para suporter internasional justru mendapat sambutan hangat. Media sosial dipenuhi berbagai momen pertukaran budaya antara warga lokal dan pendukung dari berbagai negara. 4. Sepak bola Kanada menunjukkan perkembangan Keberhasilan Kanada mencapai babak 16 besar menjadi sinyal positif bagi perkembangan sepak bola di negara tersebut. Investasi terhadap olahraga ini terus meningkat dan pertandingan mampu menarik jumlah penonton yang memecahkan rekor.
Baca Juga: Hamas Tunjuk Khalil Al-Hayya sebagai Pemimpin Baru Gantikan Yahya Sinwar 5. Euforia di Meksiko tidak sepenuhnya berdampak positif Sebagai negara dengan tradisi sepak bola yang kuat, stadion-stadion di Meksiko dipenuhi suporter. Namun kemenangan pertama Meksiko di fase gugur Piala Dunia dalam 40 tahun terakhir justru diwarnai tragedi setelah empat orang meninggal akibat berdesakan saat perayaan berlangsung. Selain itu, belum terlihat dampak ekonomi jangka panjang yang signifikan dari penyelenggaraan turnamen. 6. Tim Amerika Serikat kembali gagal memenuhi ekspektasi tinggi Perjalanan tim nasional Amerika Serikat kembali terhenti di babak 16 besar. Kontroversi sempat muncul setelah Presiden Donald Trump ikut campur dalam pencabutan hukuman kartu merah terhadap penyerang utama tim. Namun, langkah tersebut tidak mampu mengubah hasil akhir. Secara keseluruhan, performa AS dinilai masih sesuai dengan ekspektasi sebelum turnamen.
Baca Juga: Serangan Iran-AS Meluas, Pelayaran Teluk dan Pasokan Air Terancam 7. Harga tiket menjadi sorotan Salah satu kritik terbesar sepanjang Piala Dunia 2026 adalah mahalnya harga tiket dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Meski tingkat kehadiran penonton tetap tinggi, banyak pihak menilai ajang ini semakin sulit dijangkau oleh penggemar dari kalangan menengah ke bawah. 8. Kendala visa membatasi kehadiran suporter Selain faktor harga, kebijakan visa juga membuat banyak pendukung dari sejumlah negara tidak dapat hadir langsung ke stadion. Kehadiran diaspora dan masyarakat Amerika yang memberikan dukungan kepada berbagai tim membantu mengisi kursi penonton selama turnamen.
Baca Juga: Di Balik Putusan FDA untuk ZYN, Klaim Risiko Lebih Rendah Bukan Berarti Produk Aman 9. Isu politik tetap muncul di stadion Meski FIFA melarang berbagai bentuk ekspresi politik di stadion, sejumlah aksi tetap terjadi selama turnamen berlangsung. Namun, dalam berbagai insiden tersebut, pertandingan tetap dilanjutkan tanpa adanya respons langsung dari penyelenggara.
10. Sentuhan khas Amerika memicu perdebatan Penerapan unsur hiburan ala Amerika Serikat, seperti pertunjukan paruh waktu pada laga final serta jeda pendinginan (hydration break), menuai pro dan kontra. Sebagian kalangan menilai inovasi tersebut mengganggu ritme pertandingan demi kepentingan siaran televisi. Namun, pelatih memanfaatkan jeda tersebut sebagai kesempatan menyusun strategi. Di tengah suhu global yang semakin panas, jeda pendinginan juga dinilai berpotensi menjadi bagian permanen dalam penyelenggaraan sepak bola internasional.