KONTAN.CO.ID - Gelombang panas ekstrem yang menyelimuti Amerika Serikat (AS) selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dinilai merupakan dampak perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil. Kondisi tersebut memicu suhu dan tingkat kelembapan yang berbahaya bagi pemain maupun penonton.
Baca Juga: Iran Gelar Pemakaman Nasional Khamenei, Jadi Simbol Unjuk Kekuatan Negara Kelompok ilmuwan iklim World Weather Attribution (WWA) menyebut, perubahan iklim telah menciptakan kondisi cuaca ekstrem yang membuat sedikitnya satu pertandingan Piala Dunia berada dalam kategori berisiko tinggi. Salah satu laga yang menjadi sorotan adalah pertandingan Paraguay melawan Prancis yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (4/7) pukul 17.00 waktu setempat di Philadelphia. Pertandingan itu diperkirakan digelar ketika suhu udara melampaui batas aman yang direkomendasikan oleh serikat pemain sepak bola dunia, FIFPRO. Kondisi tersebut dipicu fenomena
heat dome, yakni sistem tekanan udara tinggi yang memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi. Fenomena ini saat ini melanda sebagian besar wilayah AS dan beberapa daerah di Kanada.
Baca Juga: Jerman Tersingkir dari Piala Dunia, Nagelsmann Mundur dan DFB Negosiasi dengan Klopp Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service/NWS) memperingatkan indeks panas di sejumlah wilayah Midwest dan Pantai Timur dapat mencapai 105 hingga 115 derajat Fahrenheit atau sekitar 40,5 hingga 46,1 derajat Celsius. Sejumlah kota tuan rumah Piala Dunia turut terdampak kondisi tersebut. Selain mengganggu jalannya turnamen, gelombang panas juga diperkirakan membebani jaringan listrik serta memengaruhi berbagai perayaan Hari Kemerdekaan AS yang ke-250 pada akhir pekan libur Fourth of July. Profesor Ilmu Iklim di Centre for Environmental Policy, Imperial College London, Friederike Otto, mengatakan, masyarakat tidak seharusnya memerlukan penelitian tambahan untuk menyadari dampak nyata perubahan iklim. "Ketika perayaan bersejarah Hari Kemerdekaan terganggu dan pertandingan Piala Dunia dimainkan dalam kondisi yang tidak aman bagi pemain maupun penonton, seharusnya itu sudah cukup menjadi peringatan," ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil, Harapan Perdamaian AS-Iran Tekan Risiko Pasokan Global Menurut Otto, perubahan iklim sudah memengaruhi berbagai aktivitas sehari-hari dan dampaknya akan semakin memburuk apabila transisi menuju emisi nol bersih (
net zero emissions) terus ditunda. Suhu tinggi dan kelembapan ekstrem memang menjadi perhatian sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Sebelumnya, FIFPRO telah memperingatkan risiko kesehatan akibat cuaca panas saat ajang Piala Dunia Antarklub yang juga digelar di AS.
Meski memberikan apresiasi kepada FIFA karena telah berupaya menyesuaikan jadwal pertandingan dan pemilihan stadion dengan mempertimbangkan kesehatan pemain, FIFPRO menilai masih ada sejumlah pertandingan yang tetap memiliki risiko tinggi akibat cuaca panas.
Baca Juga: Taylor Swift dan Travis Kelce Dikabarkan Menikah, Siapkan Perayaan Mewah di New York FIFPRO menegaskan bahwa dengan tren pemanasan global yang terus berlanjut, faktor suhu ekstrem akan semakin menjadi pertimbangan penting dalam penyusunan jadwal kompetisi sepak bola di masa mendatang. Namun hingga saat ini, FIFA belum memiliki aturan yang secara otomatis mengharuskan penundaan pertandingan akibat cuaca panas ekstrem. FIFA juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait hal tersebut.