Piala Dunia Usai, Akankah Dana Taruhan Bola Beralih ke Pasar Keuangan Indonesia?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Piala Dunia 2026 resmi berakhir pada Senin (20/7/2026) setelah Spanyol mengalahkan Argentina dengan skor 1-0. Pasalnya, turnamen sepak bola internasional terbesar juga menyita dana investor dalam arena taruhan. 

Selama penyelenggaraan Piala Dunia, aktivitas taruhan olahraga diperkirakan mencetak rekor baru. Riset Macquarie memperkirakan nilai taruhan global mencapai sekitar US$ 50 miliar atau lebih tinggi dibandingkan edisi sebelumnya.

Head of Research KISI, Muhammad Wafi menilai asumsi bahwa dana taruhan otomatis beralih ke pasar saham setelah Piala Dunia berakhir belum memiliki bukti historis yang kuat. Karakter dana hiburan dan dana investasi juga berbeda.


"Dana taruhan dan dana investasi berasal dari mental account yang berbeda. Uang judi bola merupakan anggaran hiburan dengan profil risiko dan psikologi yang berbeda dari modal investasi," ujar Wafi kepada Kontan, Senin (20/7/2026). 

Baca Juga: Menilik Nasib Pasar Keuangan Jelang RDG BI Bulan Juli 2026

Menurut Wafi, apabila terjadi perpindahan dana, alirannya lebih mungkin menuju instrumen berisiko tinggi seperti kripto, saham spekulatif, maupun valuta asing. Potensi aliran ke saham berkapitalisasi besar maupun obligasi dinilai lebih terbatas.

“Angka taruhan US$ 50 miliar merupakan estimasi global. Porsi Indonesia relatif kecil, sementara sebagian besar transaksi dilakukan melalui jalur ilegal sehingga tidak masuk ke sistem keuangan formal,” katanya.

Menurutnya, volume transaksi investor ritel di Bursa Efek Indonesia lebih dipengaruhi kondisi makro. Arah suku bunga, nilai tukar rupiah, hingga sentimen MSCI dinilai masih menjadi faktor dominan dibanding berakhirnya Piala Dunia.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie menambahkan tetap terdapat peluang sebagian likuiditas global kembali berotasi ke pasar modal. Namun, dampaknya terhadap Indonesia diperkirakan relatif terbatas.

Adrian bilang taruhan tersebut tersebar di berbagai negara sehingga tidak seluruhnya berpotensi mengalir ke pasar saham domestik. Perbedaan karakter antara aktivitas spekulasi dan investasi juga membatasi perpindahan dana.

"Kami melihat adanya potensi sebagian likuiditas tersebut berotasi ke dalam pasar modal Indonesia. Meski demikian, dampaknya kami proyeksikan relatif terbatas," tuturnya. 

Dia menambahkan sentimen makroekonomi masih menjadi penggerak utama pasar saham Indonesia. Kebijakan suku bunga, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arus dana asing diperkirakan jauh lebih menentukan dibanding berakhirnya Piala Dunia.

Baca Juga: Pasar Keuangan Indonesia Semester II 2026 Masih Diselimuti Tantangan, Ini Kata Analis

Adrian mengingatkan IHSG hingga kini masih membukukan net foreign outflow sekitar Rp 91 triliun di pasar reguler secara year to date. Kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih berhati-hati terhadap pasar domestik.

Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang bilang secara konsep dana yang sebelumnya digunakan untuk taruhan memang dapat berpindah ke berbagai instrumen keuangan. Namun, proses tersebut tidak terjadi secara otomatis.

Dia menjelaskan selama turnamen besar terjadi fenomena temporary diversion of disposable income, yakni sebagian dana masyarakat sementara dialihkan ke aktivitas hiburan. Setelah kompetisi berakhir, dana tersebut kembali mencari tujuan baru.

Dana tersebut dapat mengalir ke konsumsi, tabungan, deposito, emas, reksa dana, obligasi, maupun saham. Namun, besar kecilnya perpindahan tetap bergantung pada kondisi ekonomi, tingkat bunga, serta sentimen pasar.

"Piala Dunia hanyalah faktor kecil dibanding faktor makro," jelas Edwin. 

Baca Juga: Emiten Digital Panen Cuan pada Momentum Piala Dunia 2026, Siapa Saja?

Edwin menjelaskan angka taruhan global sekitar US$ 50 miliar merupakan gross betting volume atau nilai perputaran taruhan. Angka tersebut bukan berarti seluruh dana menjadi kas baru yang siap masuk ke pasar keuangan.

Menurut Edwin, apabila terjadi perpindahan dana, saham menjadi instrumen yang paling berpotensi memperoleh tambahan aktivitas. Karakter investor saham dinilai lebih dekat dengan pelaku taruhan karena sama-sama menyukai volatilitas dan peluang keuntungan tinggi.

Dia memproyeksikan instrumen kripto berpotensi memperoleh tambahan aliran dana karena memiliki karakteristik volatilitas yang tinggi. Sementara itu, obligasi diperkirakan paling kecil menerima manfaat dari berakhirnya turnamen sepak bola tersebut.

“Peningkatan aktivitas investor ritel setelah Piala Dunia kemungkinan hanya bersifat sementara. Arah pasar saham Indonesia tetap lebih banyak ditentukan kebijakan makro ekonomi dan kinerja emiten,” kata Edwin. 

Menurutnya, momentum pasca-Piala Dunia hanya dapat menjadi sentimen musiman yang memperkuat pasar ketika kondisi makro sedang kondusif. Tanpa dukungan fundamental tersebut, dampaknya terhadap IHSG diperkirakan relatif terbatas.

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Pilihan di Tengah Euforia Piala Dunia 2026

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News