Pidato Prabowo Perjelas Arah Ekonomi, Investor Masih Tunggu Implementasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai semakin terang setelah penyampaian pidato dalam Sidang Tahunan MPR dan pemaparan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Namun, investor masih menanti penjelasan lebih detail mengenai bagaimana berbagai agenda tersebut akan diwujudkan.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, kejelasan visi pembangunan menjadi modal penting bagi pemerintah. Meski demikian, pelaku pasar membutuhkan kepastian mengenai tahapan implementasi, prioritas kebijakan, hingga dampaknya terhadap investasi dan produktivitas.


"Visinya semakin jelas. Tetapi investor dan pelaku usaha biasanya tidak hanya bertanya ke mana kita akan pergi. Mereka juga ingin tahu bagaimana cara mencapainya, apa prioritasnya, dan bagaimana setiap kebijakan akan diterjemahkan menjadi investasi, lapangan kerja, serta peningkatan produktivitas," kata Fakhrul dalam keterangannya, Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, tantangan pemerintah ke depan bukan lagi sekadar merumuskan visi pembangunan, tetapi memastikan visi tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan yang konsisten dan dapat diprediksi.

Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Koreksi Pekan Depan, Cermati Level US$ 4.220

Pasar Modal Jadi Perhatian

Fakhrul juga menyoroti perhatian yang semakin besar terhadap pasar modal dalam pidato Presiden Prabowo. Menurut dia, hal tersebut merupakan perkembangan positif mengingat pembiayaan pembangunan Indonesia selama bertahun-tahun masih banyak bertumpu pada APBN dan sektor perbankan.

"Pasar modal bukan sekadar tempat perdagangan saham. Pasar modal adalah mekanisme yang menghubungkan tabungan masyarakat dengan investasi produktif. Semakin dalam pasar modal kita, semakin besar pula kemampuan Indonesia membiayai pertumbuhan jangka panjang," tambah Fakhrul.

Ia menilai reformasi bursa, penguatan perlindungan investor, serta pengembangan Indonesia Financial Center menunjukkan pemerintah mulai menempatkan pasar modal sebagai bagian integral dari strategi pembangunan nasional.

Menurut Fakhrul, demutualisasi bursa, ketegasan dalam langkah-langkah pengembangan bursa, peningkatan kepatuhan, pendalaman pasar, serta penguatan reputasi diperlukan dalam keseluruhan proses tersebut.

"Dari sisi pasar modal, ini adalah pidato terbaik pak Prabowo selama periode pemerintahan 2024 sampai hari ini karena kejelasan arah, membuat pasar memiliki pandangan yang jelas akan arah kebijakan ekonomi negara kedepannya," ucap Fakhrul.

Defisit RAPBN 2027 Jadi Sinyal Disiplin Fiskal

Di sisi lain, Fakhrul menilai target defisit RAPBN 2027 yang tetap berada di kisaran 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) memberikan sinyal bahwa pemerintah masih berkomitmen menjaga disiplin fiskal.

Komitmen tersebut dinilai penting di tengah ambisi pemerintah menjalankan berbagai agenda pembangunan. Namun, perhatian investor diperkirakan tidak hanya tertuju pada besaran defisit anggaran.

Baca Juga: IHSG Rebound Sepekan, Pengumuman MSCI Masih Jadi Beban

Investor juga akan mencermati bagaimana pemerintah membiayai pembangunan, seberapa besar investasi swasta dapat didorong, serta kemampuan Indonesia mempertahankan daya tariknya sebagai tujuan investasi di tengah persaingan global dalam memperebutkan modal.

"Pasar selalu melihat cerita yang lebih besar dari sekadar angka defisit. Mereka ingin mengetahui bagaimana pertumbuhan akan diciptakan, bagaimana modal akan masuk, dan bagaimana dunia usaha dapat memperoleh keyakinan untuk berinvestasi," jelas Fakhrul.

Henry Wibowo Nilai Pidato Prabowo Positif

Secara terpisah, Co-Founder Alphagate Capital, Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan Henry Wibowo mengungkapkan bahwa pidato tersebut merupakan salah satu pidato terbaik yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat.

Henry menyambut positif komitmen Presiden terhadap disiplin fiskal yang tercermin dari penetapan target defisit anggaran sebesar 2,4% pada 2027. Komitmen tersebut juga didukung target pertumbuhan ekonomi yang solid, mendekati 6%.

"Kami menilai asumsi anggaran untuk tahun depan realistis dan dapat dicapai, dengan catatan harga minyak global kembali normal dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah bergerak menuju penyelesaian yang damai," jelas Henry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: