Pidato Presiden Prabowo Bikin IHSG Rebound 1,59%, Bisakah IHSG Lanjut Menguat?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat 1,59% pada perdagangan Jumat (14/8), setelah sempat tergelincir ke zona merah menyusul penyampaian pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto.

IHSG ditutup naik 100,12 poin ke level 6.401,88. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level terendah 6.267,40 sebelum mencapai posisi tertingginya pada 6.401,88.

Meski IHSG menguat, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp1,03 triliun di seluruh pasar. Kondisi tersebut menjadi perhatian analis dalam melihat keberlanjutan penguatan pasar saham.


Baca Juga: Penjualan EV Melonjak, Simak Prospek Saham di Ekosistem EV

Head of Research & Education Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan penguatan IHSG terjadi setelah Presiden menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45% pada semester I-2026.

Menurut Valdy, capaian tersebut menjadi landasan optimisme pemerintah terhadap target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada akhir tahun. Target tersebut kemudian menjadi salah satu sentimen positif bagi pasar saham.

“IHSG ditutup menguat di level 6.401,89 setelah sempat bergerak di teritori negatif, kemudian berbalik menguat setelah Presiden menyampaikan pencapaian pertumbuhan ekonomi hingga semester pertama,” tulisnya dalam riset, Juma (14/8).

Selain IHSG, rupiah turut merespons positif penyampaian RAPBN 2027. Valdy mencatat rupiah menguat 0,28% menjadi Rp 17.827 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar Rp 17.500 per dolar AS. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan pidato kenegaraan memberikan sentimen positif karena pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% sekaligus mempersempit defisit fiskal tahun depan.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp 3.426 triliun dan belanja negara mencapai Rp 4.097,2 triliun. Pembiayaan anggaran dirancang sebesar Rp 671,2 triliun.

Menurut Nico, target defisit fiskal sekitar 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi salah satu poin yang mendapat perhatian positif investor karena lebih rendah dibandingkan proyeksi tahun ini.

Baca Juga: Prabowo Janjikan Arah Ekonomi Lebih Jelas, Pelaku Pasar Masih Tunggu Eksekusi

“Defisit yang menyempit, ditambah adanya ekspektasi pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 6%, tentu memenuhi harapan pelaku pasar dan investor,” katanya kepada Kontan, Jumat (14/8). 

Nico menyebut kombinasi pertumbuhan ekonomi dan disiplin fiskal tersebut membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Hal itu turut menopang penguatan IHSG pada perdagangan Jumat (14/8).

Setali tiga uang, Pengamat Pasar Modal Irwan Ariston menyebut pidato kenegaraan dan Nota Keuangan memberikan sentimen positif kepada pasar karena pemerintah tetap agresif mendorong pertumbuhan sambil menjaga disiplin fiskal.

Menurut Irwan, investor relatif lega karena target pertumbuhan ekonomi 6% tidak dibarengi pelebaran defisit secara berlebihan. Pasar melihat adanya upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan disiplin fiskal.

“Pasar melihat ada upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan disiplin fiskal. Itu yang menjadi kejutan positif hari ini,” kata dia.

Namun, Irwan menilai penguatan IHSG pada Jumat lebih mencerminkan relief rally. Menurutnya, kenaikan tersebut merupakan respons pasar terhadap meredanya kekhawatiran, sehingga belum dapat disebut sebagai awal bull run baru.

“Penguatan IHSG 14 Agustus saya melihatnya sebagai relief rally terlebih dahulu, penguatan sebagai respons atas meredanya kekhawatiran pasar,” tutur Irwan.

Baca Juga: IHSG Rebound Sepekan, Pengumuman MSCI Masih Jadi Beban

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan target pertumbuhan ekonomi 6% juga menjadi sentimen positif bagi pasar saham karena menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap penguatan konsumsi, investasi dan aktivitas sektor riil.

Bagi pasar saham, Nafan bilang yang lebih penting dari angka pertumbuhan tersebut adalah dampaknya terhadap pertumbuhan laba emiten. Sejumlah sektor berpotensi memperoleh manfaat apabila target pertumbuhan ekonomi terealisasi.

Dia memproyeksikan sektor perbankan berpotensi terdorong melalui pertumbuhan kredit, sedangkan konstruksi, infrastruktur, semen dan bahan bangunan dapat memperoleh katalis dari peningkatan investasi fisik.

Selain itu, lanjut Nafan, Sektor konsumer juga berpeluang mendapatkan manfaat apabila daya beli masyarakat membaik. Sementara itu, properti, energi dan pertambangan dapat memperoleh katalis dari kondisi suku bunga serta agenda hilirisasi.

“Yang penting bukan sekadar angka 6%, tetapi ekspektasi terhadap earnings growth emiten. Jika pertumbuhan ekonomi meningkat, peluang kenaikan pendapatan dan laba perusahaan juga semakin besar,” ucapnya. 

Nafan menambahkan, asumsi inflasi sebesar 2,5% dan yield SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9% memberikan sinyal pemerintah ingin menjaga kombinasi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro.

Jika target pertumbuhan tersebut terealisasi, Nafan menyebut premi risiko Indonesia berpotensi turun sehingga memberikan ruang bagi valuasi saham untuk mengalami re-rating.

Baca Juga: IHSG Rebound Sepekan, Pengumuman MSCI Masih Jadi Beban

Namun, Nafan mengingatkan pasar tetap akan selektif. Target pertumbuhan 6% perlu dibuktikan melalui realisasi pertumbuhan ekonomi, konsumsi, investasi, kredit serta pertumbuhan laba perusahaan.

“Kalau target tersebut terealisasi, risk premium Indonesia berpotensi turun, sehingga valuasi saham dapat memperoleh ruang re-rating,” kata Nafan.

Dari sisi pergerakan IHSG, Nafan melihat ruang penguatan masih terbuka apabila target pertumbuhan ekonomi mulai tercermin pada kinerja fundamental perusahaan. Namun, realisasi kebijakan pemerintah tetap menjadi faktor penting.

Sementara itu, Irwan menilai kenaikan IHSG pada Jumat belum cukup untuk disebut sebagai awal tren bullish baru. Dia melihat penguatan tersebut lebih mencerminkan relief rally setelah kekhawatiran pasar mereda.

Menurut Irwan, pasar masih membutuhkan bukti bahwa belanja pemerintah benar-benar menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya meningkatkan laba perusahaan. Karena itu, keberlanjutan rally masih bergantung pada eksekusi APBN.

“Pasar membeli optimisme, tetapi untuk membeli rally jangka panjang, investor masih menunggu bukti. Target pertumbuhan 6% harus diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba emiten dan stabilitas rupiah,” ujar Irwan.

Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Koreksi Pekan Depan, Cermati Level US$ 4.220

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News