KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyoroti tingginya jumlah pengangguran sarjana insinyur di Indonesia yang mencapai sekitar 1 juta orang. Namun, Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie mengaku belum mengetahui secara rinci berapa jumlah pengangguran yang berasal dari bidang keinsinyuran. “Saya kira tidak bisa kita pungkiri bahwasanya saat ini pada umumnya yang saya ketahui adalah kurang lebih 1 juta sarjana insinyur yang memang menganggur. Seberapa banyak itu insinyur, itu terus terang saya belum tahu secara rinci” ujar Ilham kepada KONTAN, Minggu (30/8/2026). Menurut Ilham, persoalan tersebut menunjukkan perlunya penciptaan lapangan kerja yang lebih besar. Penguatan kualitas tenaga keinsinyuran juga perlu berjalan seiring dengan perkembangan industri agar dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja. Baca Juga: Hyundai Bawa IONIQ 9 dan PALISADE Hybrid ke GIIAS Surabaya 2026 Di sisi lain, sejumlah daerah masih membutuhkan tenaga insinyur untuk menopang pengembangan sektor ekonominya. Salah satunya Maluku Utara yang tengah mengembangkan hilirisasi pertambangan. Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe mengatakan, kebutuhan tenaga keinsinyuran di daerahnya masih besar. Hal itu seiring perkembangan industri hilirisasi pertambangan serta pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan kelautan. Menurut dia, Maluku Utara juga masih membutuhkan tambahan SDM untuk menopang perkembangan sektor-sektor tersebut. Namun, pemerintah daerah masih perlu melihat data lebih rinci mengenai jumlah tenaga insinyur yang belum terserap. “Melihat perkembangan dinamis hilirisasi tambang, saya kira insinyur sangat diperlukan. Di samping hilirisasi tambang, kami juga fokus pada pertanian, perikanan, dan kelautan,” ujar Sarbin kepada KONTAN, Minggu (30/8). Sarbin menambahkan, penghargaan IKD yang diterima Maluku Utara menjadi dorongan untuk mempertahankan capaian tersebut. Ke depan, pemerintah daerah akan berupaya memaksimalkan berbagai inovasi yang telah direncanakan. Baca Juga: Industri Mamin Tumbuh 6,51%, GAPMMI Soroti Pentingnya Inovasi dan Bahan Baku “Langkah selanjutnya bagaimana mempertahankan prestasi ini, sehingga inovasi yang telah direncanakan bisa dilakukan secara maksimal,” katanya. Dengan perkembangan hilirisasi dan sektor ekonomi lainnya, kebutuhan tenaga keinsinyuran di Maluku Utara diperkirakan akan terus meningkat. Penguatan kapasitas SDM teknik pun menjadi salah satu faktor penting agar pertumbuhan investasi dan industri dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
PII: Sekitar 1 Juta Sarjana Insinyur Menganggur, Maluku Utara Masih Butuh Insinyur
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyoroti tingginya jumlah pengangguran sarjana insinyur di Indonesia yang mencapai sekitar 1 juta orang. Namun, Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie mengaku belum mengetahui secara rinci berapa jumlah pengangguran yang berasal dari bidang keinsinyuran. “Saya kira tidak bisa kita pungkiri bahwasanya saat ini pada umumnya yang saya ketahui adalah kurang lebih 1 juta sarjana insinyur yang memang menganggur. Seberapa banyak itu insinyur, itu terus terang saya belum tahu secara rinci” ujar Ilham kepada KONTAN, Minggu (30/8/2026). Menurut Ilham, persoalan tersebut menunjukkan perlunya penciptaan lapangan kerja yang lebih besar. Penguatan kualitas tenaga keinsinyuran juga perlu berjalan seiring dengan perkembangan industri agar dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja. Baca Juga: Hyundai Bawa IONIQ 9 dan PALISADE Hybrid ke GIIAS Surabaya 2026 Di sisi lain, sejumlah daerah masih membutuhkan tenaga insinyur untuk menopang pengembangan sektor ekonominya. Salah satunya Maluku Utara yang tengah mengembangkan hilirisasi pertambangan. Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe mengatakan, kebutuhan tenaga keinsinyuran di daerahnya masih besar. Hal itu seiring perkembangan industri hilirisasi pertambangan serta pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan kelautan. Menurut dia, Maluku Utara juga masih membutuhkan tambahan SDM untuk menopang perkembangan sektor-sektor tersebut. Namun, pemerintah daerah masih perlu melihat data lebih rinci mengenai jumlah tenaga insinyur yang belum terserap. “Melihat perkembangan dinamis hilirisasi tambang, saya kira insinyur sangat diperlukan. Di samping hilirisasi tambang, kami juga fokus pada pertanian, perikanan, dan kelautan,” ujar Sarbin kepada KONTAN, Minggu (30/8). Sarbin menambahkan, penghargaan IKD yang diterima Maluku Utara menjadi dorongan untuk mempertahankan capaian tersebut. Ke depan, pemerintah daerah akan berupaya memaksimalkan berbagai inovasi yang telah direncanakan. Baca Juga: Industri Mamin Tumbuh 6,51%, GAPMMI Soroti Pentingnya Inovasi dan Bahan Baku “Langkah selanjutnya bagaimana mempertahankan prestasi ini, sehingga inovasi yang telah direncanakan bisa dilakukan secara maksimal,” katanya. Dengan perkembangan hilirisasi dan sektor ekonomi lainnya, kebutuhan tenaga keinsinyuran di Maluku Utara diperkirakan akan terus meningkat. Penguatan kapasitas SDM teknik pun menjadi salah satu faktor penting agar pertumbuhan investasi dan industri dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
TAG: