Pilihan brand dan resto pengaruhi bisnis mal



KONTAN.CO.ID - Banyaknya mal yang berada di Jabodetabek tentu saja memudahkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, beberapa tahun terakhir ini jumlah pengunjung mal dan basket size (rata-rata transaksi belanja pelanggan) disebut-sebut mengalami penurunan, berdasarkan survey BCA terjadi penurunan daya beli 40% yang turut menekan pusat perbelanjaan.

Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengatakan banyaknya mal dan pusat perbelanjaan baru yang dibangun bukan jaminan akan ramai. Menurutnya, ada dua indikator bagi para tenant agar mau menyewa tempat di pusat perbelanjaan, bukan lagi persoalan apakah mal tersebut baru atau tidak.

“Brand dan pengunjung, asalkan brand besar hadir dan pengunjung ramai, pasti tenant juga tak ragu sewa tempat,” ujarnya kepada KONTAN, Minggu (17/9).


Terkait dengan kebaruan mal tidak terlalu berpengaruh. Budiharjo bilang, mal yang lebih ramai lebih disebabkan banyaknya pilihan resto. Dia mengakui, e-commerce memang berimbas pada retail konvensional, tapi tidak semua produk terkena dampak dari hadirnya e-commerce.

“Mall yang banyak food and beverages dan lifestyle lebih hidup. Karena kalau hanya fashion dan elektronik memang ada terkena dampak online,” lanjutnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia