Pilpres AS 2028 Mulai Memanas, Demokrat Hadapi Persaingan Internal



KONTAN.CO.ID - Persaingan menuju pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) 2028 mulai menghangat setelah pemilu sela (midterm elections) berakhir.

Partai Demokrat kini bersiap menghadapi perebutan kandidat presiden yang diperkirakan berlangsung ketat, dengan banyak tokoh berpotensi masuk dalam bursa pencalonan.

Hingga saat ini, belum ada satu pun tokoh Demokrat yang muncul sebagai kandidat unggulan.


Sebaliknya, Partai Republik memiliki sejumlah nama yang mulai diperbincangkan untuk menggantikan Presiden Donald Trump, yang secara konstitusional tidak dapat kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.

Baca Juga: Posisi Netanyahu Tertekan, Rivalnya Kantongi Dukungan Mayoritas di Parlemen Israel

Dua nama yang banyak dikaitkan dengan bursa kandidat Partai Republik adalah Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Sejumlah tokoh potensial Demokrat, termasuk gubernur dan senator yang masih menjabat, telah mulai membangun jaringan pendukung, mendekati donatur, serta mengunjungi negara bagian yang menjadi lokasi awal pemilihan pendahuluan.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan popularitas nasional menjelang kontestasi 2028.

Kemenangan besar Demokrat dalam pemilu sela pada Selasa (3/11) turut memperkuat dinamika persaingan politik di kedua partai. Hasil pemungutan suara tersebut mencerminkan penolakan sebagian pemilih terhadap kebijakan Trump dan arah pemerintahan AS.

Meski meraih kemenangan, Demokrat masih menghadapi perbedaan pandangan mengenai strategi politik untuk merebut kembali Gedung Putih.

Perdebatan terutama berkisar pada pilihan untuk mengusung agenda politik moderat atau bergerak lebih ke kiri, mulai dari isu layanan kesehatan, pajak, penegakan hukum hingga kebijakan luar negeri.

Baca Juga: Harga Nikel Dunia Melonjak 3%, Penertiban Tambang di Indonesia Jadi Pemicunya

Di kubu Republik, tantangannya berbeda. Para kandidat harus mencari cara untuk membangun jarak politik dari Trump setelah hasil pemilu sela menunjukkan ketidakpuasan pemilih terhadap kebijakannya.

Namun, mereka juga harus tetap menjaga dukungan kelompok populis Make America Great Again (MAGA) yang selama ini menjadi basis utama Partai Republik.

Pengaruh Trump yang telah mendominasi politik AS selama satu dekade juga berpotensi memengaruhi proses regenerasi kepemimpinan partai tersebut.

Persaingan Internal Demokrat Mulai Mengemuka

Strategis Partai Demokrat Doug Sosnik mengatakan, hasil pemilu sela akan membuat kelompok progresif maupun moderat sama-sama merasa pendekatan politik mereka mendapatkan pembenaran.

Kondisi tersebut diperkirakan memicu persaingan internal mengenai arah dan strategi Partai Demokrat menjelang Pilpres 2028.

Salah satu kemenangan progresif yang menjadi sorotan terjadi dalam pemilihan Senat di Michigan.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pensiun dari Timnas Portugal, Ini Rekor dan Perjalanan Kariernya

Kandidat Demokrat Abdul El-Sayed berhasil mengalahkan kandidat Republik Mike Rogers. Kemenangan tersebut menjadikannya Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat AS.

"Semua kelompok dalam Partai Demokrat dapat menemukan pembenaran atas pandangan mereka dari hasil pemilu tadi malam. Saya tidak berpikir siapa pun dapat atau seharusnya mencoba membatasi perbedaan yang kami miliki sebagai sebuah partai," ujar Sosnik, Rabu (4/11).

Sejumlah tokoh Demokrat telah mengakui sedang mempertimbangkan pencalonan presiden atau belum menutup kemungkinan untuk maju pada 2028.

Nama-nama yang masuk dalam pembicaraan antara lain mantan Wakil Presiden Kamala Harris, Gubernur California Gavin Newsom, Gubernur Kentucky Andy Beshear, mantan Menteri Transportasi Pete Buttigieg, serta anggota DPR AS dari New York Alexandria Ocasio-Cortez yang dikenal sebagai salah satu tokoh progresif.

Reuters telah menghubungi perwakilan sembilan tokoh potensial Demokrat. Namun, belum ada satu pun yang mengonfirmasi rencana pencalonan pada Pilpres 2028.

Selain itu, sejumlah tokoh Demokrat, termasuk Buttigieg dan anggota DPR AS dari California Ro Khanna, dijadwalkan menghadiri pertemuan di Denver sembilan hari setelah pemilu 3 November.

Baca Juga: Bank of England (BoE) Kerek Suku Bunga Jadi 4%, Pertama Kali Sejak 2023

Acara tersebut diselenggarakan Majority Democrats, kelompok yang didukung sejumlah politisi moderat dan miliarder Steve Mandel.

Kelompok tersebut mendorong regenerasi kepemimpinan partai oleh tokoh yang lebih muda serta platform politik yang lebih moderat.

Ketua Majority Democrats sekaligus anggota DPR AS dari Massachusetts, Jake Auchincloss, mengatakan pertemuan tersebut bertujuan membuka perdebatan mengenai masa depan partai sebelum persaingan Pilpres 2028 dimulai.

Strategis Demokrat Scott Ferson memperkirakan jumlah kandidat yang berminat mengikuti pemilihan pendahuluan partai bisa sangat besar.

"Setidaknya ada 30 anggota Demokrat yang mengatakan kepada orang-orang terdekat mereka, 'Menurut Anda, apakah saya sebaiknya maju?'," kata Ferson.

Baca Juga: Demokrat Kuasai Kongres AS, Bank Wall Street Hadapi Pengawasan Ketat

Kandidat Republik Masih Dibayangi Trump

Berbeda dengan Demokrat, sejumlah tokoh potensial Partai Republik sejauh ini cenderung lebih berhati-hati dalam menunjukkan ambisi politik mereka dan masih berada di bawah bayang-bayang Trump.

Namun, hasil pemilu sela yang menunjukkan ketidakpuasan pemilih terhadap penanganan ekonomi, kebijakan luar negeri, serta pemberantasan korupsi berpotensi mengubah dinamika tersebut.

Strategis Partai Republik Matt Dole menilai posisi JD Vance cukup rumit dalam menentukan jarak politik dengan Trump.

Sebagai wakil presiden, Vance memiliki ruang yang lebih terbatas untuk mengambil sikap berbeda dibandingkan pejabat kabinet lainnya yang dapat mengundurkan diri.

"Vance tidak memiliki keleluasaan yang sama seperti anggota kabinet lainnya, yang bisa mengundurkan diri," ujar Dole.

Meski demikian, Vance pada Rabu mengakui perang Iran yang dilancarkan Trump pada Februari dan tidak populer di kalangan masyarakat AS telah menyebabkan Partai Republik kehilangan suara dalam pemilu sela.

Pernyataan tersebut tidak serta-merta menunjukkan perbedaan sikap dengan Trump, yang sebelumnya juga mengakui persoalan tersebut.

Baca Juga: Uni Eropa Suntik Dana Besar untuk Kejar Ketertinggalan Industri Cip

Kandidat yang nantinya menjadi pemimpin baru Partai Republik harus menghadapi tantangan mempertahankan basis pendukung MAGA sekaligus membangun kembali koalisi pemilih yang mengantarkan Trump meraih kemenangan pada Pilpres 2024.

Hasil jajak pendapat keluar tempat pemungutan suara (exit poll) pada Selasa menunjukkan sejumlah kelompok pemilih penting, termasuk pemilih muda, warga Hispanik, dan sebagian pria kulit hitam, beralih meninggalkan Partai Republik.

Vance sendiri menyatakan masih ada kemungkinan dirinya tidak akan maju dalam Pilpres 2028 dengan mempertimbangkan faktor keluarga. Sementara itu, Rubio mengatakan belum memiliki rencana untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Gubernur Florida Ron DeSantis, yang pernah gagal dalam perebutan nominasi presiden Partai Republik melawan Trump pada 2024, juga belum menutup kemungkinan kembali mengikuti kontestasi.

Nama lain yang berpotensi masuk bursa kandidat Republik adalah Gubernur Arkansas Sarah Huckabee Sanders dan Senator Texas Ted Cruz.