KONTAN.CO.ID - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun berpotensi menembus level 6% untuk pertama kalinya sejak 2000. Kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, serta membengkaknya utang pemerintah AS menjadi sejumlah faktor yang dapat mendorong kenaikan yield tersebut. Mengutip
Reuters, Jumat (9/10/2026), Chief Investment Officer Pimco Dan Ivascyn mengatakan, kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun hingga 6% bukan hal yang mustahil terjadi, terutama jika tekanan jual di pasar obligasi berlanjut.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik 1,1% Jumat (9/10), Pasar Cermati Arah Suku Bunga The Fed Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 5,29%, mendekati level 5,34% yang dicapai pekan lalu. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2002. Sepanjang tahun ini, yield tenor acuan tersebut telah meningkat hampir 120 basis poin. Menurut Ivascyn, kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat masih mungkin terjadi. Salah satu pemicunya adalah pelepasan posisi investasi obligasi yang merugi oleh hedge fund dan investor lain yang menggunakan leverage. “Hal itu tentu mungkin terjadi, bahkan dari perspektif perdagangan jangka pendek, mengingat sebagian aktivitas dalam beberapa pekan terakhir berkaitan dengan faktor teknikal negatif dan penghentian posisi oleh hedge fund serta investor berleverage lainnya,” ujarnya kepada Financial Times. Ivascyn memperingatkan, kenaikan yield US Treasury lebih lanjut dapat menekan aset berisiko, termasuk saham dan obligasi korporasi. Jika yield tenor 10 tahun mencapai 5,5% atau lebih, pasar kredit dan saham berpotensi mengalami pelemahan yang cukup signifikan. Tekanan terhadap pasar obligasi global meningkat sepanjang tahun ini seiring lonjakan biaya energi yang memperbesar kekhawatiran inflasi.
Baca Juga: AS Sita Tujuh Domain Internet untuk Ganggu Infrastruktur Peretas China Di saat yang sama, pesatnya investasi kecerdasan buatan (AI) turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut mendorong investor menyesuaikan portofolio menghadapi lingkungan suku bunga tinggi. Harga obligasi pun tertekan, sehingga yield meningkat. Pada kuartal yang berakhir September 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun mencatat kenaikan kuartalan terbesar pada abad ini.