Pindad Kebanjiran Pesanan Panser



JAKARTA. Bisnis mesin perang dan senjata memang tidak pernah sepi. Tengok saja PT Pindad (Persero) yang kebanjiran order dari banyak negara. Lantaran kapasitas produksi mereka terbatas, satu-satunya produsen senjata di Indonesia itu pun membatasi jumlah atau jangka waktu pemesanan.

Produk Pindad yang paling laris adalah Panser Anoa 6x6. Sangking banyaknya yang memesan produk ini, "Pesanan harus inden karena jumlah pesanannya sudah mencapai ratusan unit," ujar Pramadya Wisnu W, Manajer Marketing Pindad.

Permintaan yang terbesar datang dari Kerajaan Oman, yang memesan 200 unit panser. Mesin perang seharga Rp 9 miliar per unit tersebut diperlukan untuk menjaga ladang-ladang minyak di negara Arab tersebut. Karena besarnya pesanan dari Kerajaan Oman tersebut, Pindad merencanakan memproduksinya secara bertahap, yakni selama 4 tahun ke depan.


Bagi Anda yang belum tahu, panser produksi Pindad memiliki daya angkut sebanyak 12 orang. Spesifikasi teknisnya baik dan sudah teruji di kawasan gurun. "Pasukan perdamaian PBB sudah menggunakan kendaraan ini di Lebanon," kata Pramadya.

Panser buatan Pindad ini mulai menjelajah pasar ekspor di tahun 2009, yakni setelah memenuhi standar NATO level III. Artinya tingkat ketahanan lapisan bajanya terhadap serangan sudah lebih baik dari panser level II yang di produksi China dan India. "Hanya mortir tertentu yang bisa menembusnya, dan itupun harus dari jarak dekat," jelas Pramadya.

Selain Oman, Malaysia ternyata juga kepincut dengan Panser Anoa. Negeri jiran itu telah memesan 30 unit pada tahun ini. Namun, menurut Pramadya, perusahaan tempatnya bekerja masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan seluruh pesanan itu.

Negara lain yang juga ingin memiliki Anoa adalah Nepal, yang juga memesan 30 unit. Chili dan Portugal juga berminat, dan saat ini masih dalam tahap negosiasi. "Kami juga mendapat pesanan 150 unit dari pemerintah RI," kata Pramadya. Selain Anoa, Pindad juga mendapat order kendaraan water cannon dari Timor Leste sebanyak 4 unit.

Panser bukan cuma satu-satunya produk Pindad yang laris. Ada juga pesanan peluru. Tak tanggung-tanggung, Amerika Serikat memesan 10 juta peluru untuk memenuhi kebutuhan tentaranya.

Namun sayang, "Kami tidak mampu memproduksi sebanyak itu dalam kondisi waktu yang mereka minta," kata Pramadya. Dari order 10 juta pelor, Pindad hanya bisa memenuhi 1 juta butir dengan nilai transaksi US$ 200.000.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dikky Setiawan