KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Peluncuran program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) oleh Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah penting untuk mengatasi mandeknya penyaluran kredit ke sektor riil. Namun, para ekonom mengingatkan, inisiatif ini belum cukup kuat jika tidak dibarengi perbaikan fundamental di sisi permintaan dan kualitas koordinasi kebijakan. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai PINISI hadir di ruang yang berbeda dibandingkan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Jika KSSK berfokus pada stabilitas sistem keuangan terutama dalam situasi krisis, PINISI justru mencoba memastikan likuiditas yang sudah longgar benar-benar mengalir ke sektor riil. Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan kekurangan likuiditas, melainkan lemahnya penyerapan kredit oleh dunia usaha. Ia menyoroti fenomena undisbursed loan yang masih besar, di mana plafon kredit sudah disetujui, tetapi belum ditarik oleh debitur.
PINISI BI Jadi Langkah Strategis, Tapi Belum Cukup Dongkrak Kredit Sektor Riil
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Peluncuran program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) oleh Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah penting untuk mengatasi mandeknya penyaluran kredit ke sektor riil. Namun, para ekonom mengingatkan, inisiatif ini belum cukup kuat jika tidak dibarengi perbaikan fundamental di sisi permintaan dan kualitas koordinasi kebijakan. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai PINISI hadir di ruang yang berbeda dibandingkan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Jika KSSK berfokus pada stabilitas sistem keuangan terutama dalam situasi krisis, PINISI justru mencoba memastikan likuiditas yang sudah longgar benar-benar mengalir ke sektor riil. Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan kekurangan likuiditas, melainkan lemahnya penyerapan kredit oleh dunia usaha. Ia menyoroti fenomena undisbursed loan yang masih besar, di mana plafon kredit sudah disetujui, tetapi belum ditarik oleh debitur.
TAG: