Pipa Minyak Arab Saudi Ditutup, 4% Pasokan Global Terancam Hilang



KONTAN.CO.ID - Gangguan pada pipa minyak utama Arab Saudi berpotensi semakin memperketat pasokan minyak global.

Jika pipa tersebut tidak segera kembali beroperasi, Arab Saudi diperkirakan bisa kehabisan stok minyak untuk ekspor dalam hitungan hari.

Sejumlah pembeli minyak dan pedagang mengatakan, penghentian pipa East-West Pipeline milik Arab Saudi dapat menghilangkan pasokan hingga 4% dari pasokan minyak global, atau sekitar 4 juta barel per hari (bph).


Baca Juga: Peso Filipina dan Won Korea Jadi Mata Uang Asia Paling Tertekan Hari Ini

Pipa tersebut ditutup sejak Jumat setelah serangan drone menyebabkan kerusakan pada fasilitas.

Hingga kini, pemerintah Arab Saudi belum memberikan informasi rinci mengenai tingkat kerusakan maupun kapan pipa tersebut dapat kembali beroperasi.

Sumber Reuters memberikan perkiraan waktu perbaikan yang berbeda. Salah satu sumber menyebut kerusakan dapat membutuhkan waktu hingga lima atau enam pekan untuk diperbaiki.

Namun, sumber lainnya memperkirakan pipa bisa diperbaiki lebih cepat dan sebagian aliran minyak dapat kembali berjalan meski proses perbaikan masih berlangsung.

Kementerian Energi Arab Saudi dan kantor media pemerintah belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Baca Juga: Kennedy Center di Ambang Bangkrut, Bisa Tutup Mulai Selasa

Stok minyak Arab Saudi mulai menipis

Selama enam bulan terakhir, pipa yang membentang melintasi gurun Semenanjung Arab tersebut menjadi jalur penting bagi Arab Saudi untuk menghindari dampak penutupan Selat Hormuz akibat perang.

Arab Saudi mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari, atau sekitar 4% pasokan global, melalui pipa tersebut menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Namun, dengan pipa yang kini tidak beroperasi, stok minyak di Yanbu diperkirakan hanya cukup untuk mempertahankan ekspor selama lima hingga tujuh hari, menurut tiga sumber industri yang mengetahui aktivitas ekspor minyak Arab Saudi.

Arab Saudi masih memiliki persediaan tambahan di pelabuhan Ain Sukhna di Laut Merah dan Sidi Kerir di Mediterania.

Namun, persediaan tersebut juga hanya mampu menopang kebutuhan pelanggan selama beberapa hari.

Kapasitas penyimpanan minyak di Yanbu diperkirakan mencapai sekitar 35 juta barel. Sementara itu, Ain Sukhna memiliki kapasitas sekitar 18 juta barel dan Sidi Kerir sekitar 20 juta barel.

Stok di fasilitas-fasilitas tersebut tidak dalam kondisi penuh. Tanpa kembali beroperasinya pipa East-West, persediaan minyak untuk ekspor pada akhirnya akan habis, menurut sumber industri.

Baca Juga: Korea Utara Uji Serangan Terintegrasi, Rudal dan Drone Dikerahkan Bersamaan

Pasokan minyak Arab Saudi anjlok

Gangguan tersebut datang ketika pasokan minyak Arab Saudi memang sudah mengalami penurunan tajam.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut, pasokan minyak Arab Saudi pada Agustus telah turun ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade akibat berkurangnya aliran minyak melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.

IEA juga memperkirakan pasokan minyak global akan turun 5,7 juta barel per hari, atau sekitar 6%, sepanjang tahun ini.

Tekanan pasokan semakin besar setelah kelompok Houthi di Yaman yang mengancam pengiriman minyak Arab Saudi mengambil alih sebuah pulau di dekat mulut Laut Merah pada Jumat.

Sebelum perang berlangsung, kawasan Timur Tengah memasok sekitar 22 juta barel minyak per hari.

Baca Juga: Arab Saudi Cabut Peringatan Bahaya di Empat Kota Ini

Sementara itu, arus minyak melalui Selat Hormuz kini turun menjadi sekitar 6 juta-9 juta barel per hari, menurut sumber industri.

Arab Saudi juga melaporkan kepada OPEC pada pekan lalu bahwa produksi minyaknya turun menjadi hanya 6,2 juta barel per hari pada Agustus, dibandingkan 10,9 juta barel per hari pada Februari, sebelum perang dimulai.

Jika gangguan pipa berlangsung lama, pasar minyak global berpotensi menghadapi tekanan pasokan yang semakin parah.

Kondisi tersebut dapat kembali mendorong kenaikan harga energi sekaligus memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.