KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Platform e-commerce mulai menaikkan biaya layanan logistik yang ditanggung oleh penjual (seller) sejak awal Mei 2026. Kebijakan ini mencerminkan penyesuaian industri terhadap meningkatnya biaya operasional logistik di tengah dinamika global. Salah satu platform yang menerapkan kebijakan ini adalah TikTok Shop. Per 1 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, TikTok Shop resmi memberlakukan biaya layanan logistik kepada penjual. Mengacu pada informasi di situs resminya, biaya tersebut mencakup pemrosesan pesanan, koordinasi pengiriman, penanganan kendala logistik, hingga insentif pengiriman dasar. Meski demikian, TikTok Shop memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan berdampak langsung pada pembeli. Biaya yang ditanggung oleh penjual tidak akan ditampilkan dalam proses pembayaran atau saat check-out.
"Ini memungkinkan platform untuk terus meningkatkan jaringan logistik berkualitas tinggi dan berkelanjutan yang melayani penjual dan pelanggan dengan lebih baik dalam jangka panjang, di tengah perubahan kondisi global," jelas TikTok Shop dalam pengumuman di situsnya, dikutip Rabu (6/5/2026).
Skema Biaya Berdasarkan Berat dan Rute
Biaya layanan logistik yang dikenakan TikTok Shop dihitung per pesanan, dengan mempertimbangkan berat paket dan rute pengiriman. Tarif ini bervariasi untuk tipe pengiriman standar, ekonomi, dan kargo.
Baca Juga: Kenaikan Biaya Logistik E-Commerce, Ini Dampaknya bagi UMKM dan Seller Untuk pengiriman standar dari Jawa ke Jakarta, biaya berkisar antara Rp 690 (0–1 kg) hingga Rp 4.350 (di atas 5 kg) per pesanan. Sementara pengiriman dari Jawa ke wilayah Jawa lainnya dikenakan Rp 990 hingga Rp 5.060. Adapun rute Jawa ke Sumatera dikenakan Rp 2.830 hingga Rp 5.060 per pesanan. Pengiriman ke wilayah lain juga memiliki tarif berbeda, yakni mulai dari Rp 1.720 untuk Bali, Rp 3.940 untuk Sulawesi, Rp 3.440 untuk Kalimantan, serta Rp 5.060 untuk Papua dan Maluku. Pada tipe ekonomi, biaya pengiriman dari Jawa ke Bali berkisar antara Rp 1.420 hingga Rp 5.060 per pesanan. Sedangkan pengiriman ke wilayah lain seperti Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, serta Papua dan Maluku dimulai dari Rp 2.430, Rp 1.920, Rp 3.540, Rp 3.130, dan Rp 3.540 per pesanan.
Shopee Terapkan Skema Berbasis Program
Selain TikTok Shop, Shopee juga melakukan penyesuaian biaya layanan sejak 2 Mei 2026. Namun, pendekatan yang digunakan berbeda, yakni melalui program opsional bertajuk Gratis Ongkir XTRA. Penjual yang bergabung dalam program ini akan dikenakan biaya layanan tertentu, meskipun tidak seluruh pesanan menggunakan voucher gratis ongkir. "Biaya layanan Gratis Ongkir XTRA tidak akan dibebankan pada ongkos kirim, diskon atau voucher yang ditanggung Penjual. Namun, akan dikenakan untuk semua pesanan yang terselesaikan baik yang menggunakan Voucher Gratis Ongkir XTRA atau tidak," papar Shopee dalam situs resminya, Jumat (1/5/2026). Rinciannya, biaya layanan untuk produk ukuran biasa dapat mencapai hingga 8%, sementara produk ukuran khusus dikenakan hingga 9,5%. Produk ukuran biasa didefinisikan sebagai barang dengan berat di bawah 5 kg, dimensi kurang dari 60 cm, serta volume di bawah 20.000 cm³. Sedangkan produk ukuran khusus mencakup barang dengan berat minimal 5 kg atau dimensi yang melebihi batas tersebut.
Baca Juga: Skema Bagi Hasil Minerba Ala Migas Dinilai Rumit, Ini Pendapat Apindo Dampak Tekanan Global pada Biaya Logistik
Menanggapi kebijakan ini, Asosiasi E-Commerce Indonesia menilai bahwa kenaikan biaya logistik dipengaruhi oleh meningkatnya biaya distribusi, energi, pergudangan, hingga layanan pengiriman last-mile. "Dinamika global, termasuk tekanan geopolitik dan volatilitas harga energi, turut memberikan dampak terhadap rantai pasok dan biaya logistik secara umum," kata Sekretaris Jenderal idEA Budi Primawan kepada KONTAN, Rabu (6/5/2026).
Menurut idEA, kebijakan penyesuaian biaya ini bukan keputusan sepihak, melainkan refleksi dari kondisi industri yang tengah beradaptasi demi keberlanjutan jangka panjang. Budi menekankan pentingnya komunikasi dan transparansi antara pelaku industri dalam menghadapi perubahan ini. Selain itu, ruang adaptasi bagi penjual juga menjadi kunci agar ekosistem tetap sehat. "idEA juga terus berdiskusi dengan berbagai pemangku kepentingan agar ekosistem digital Indonesia dapat tumbuh secara sehat, kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan. Kami juga terus mendukung percepatan digitalisasi UMKM di Indonesia," tandas Budi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News