KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Platform pasar prediksi seperti Kalshi dan Polymarket sedang naik daun. Ini karena semakin banyak investor menggunakan taruhan digital untuk menebak hasil pemilu, kebijakan pemerintah, hingga peristiwa global. Namun di balik lonjakan popularitas itu, muncul masalah baru meningkatnya taruhan mencurigakan yang diduga memanfaatkan informasi rahasia atau insider information. Sejumlah sumber menyebut Kalshi telah menyelidiki lebih dari 400 transaksi mencurigakan sejak awal tahun, lebih dari dua kali lipat dibanding total investigasi sepanjang tahun lalu. Beberapa di antaranya bahkan telah dilaporkan ke regulator derivatif AS, Commodity Futures Trading Commission (CFTC).
Baca Juga: Taiwan Perkuat Hubungan dengan AS Usai Trump dan Xi Bahas Isu Senjata dan Keamanan Polymarket juga mengalami lonjakan aktivitas serupa, meski tidak mengungkap jumlah pastinya. Lonjakan transaksi mencurigakan terjadi bersamaan dengan meledaknya volume perdagangan di pasar prediksi. Di Kalshi, nilai transaksi tahunan yang disetahunkan melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam enam bulan terakhir menjadi sekitar US$ 178 miliar. Sementara data Dune Analytics menunjukkan volume perdagangan bulanan Polymarket mencapai sekitar US$ 10,3 miliar pada April, naik jauh dari US$ 3,8 miliar setahun sebelumnya. Platform ini memungkinkan pengguna membeli kontrak ya atau tidak terkait suatu peristiwa, misalnya apakah kandidat tertentu akan menang pemilu atau apakah suatu kebijakan akan diumumkan pemerintah. Berbeda dengan pasar saham biasa, insider trading di pasar prediksi lebih sulit dibuktikan. Profesor Stanford Law School, Joseph Grundfest, mengatakan pelaku insider trading saham biasanya lebih mudah dilacak karena akses informasi rahasia dapat diidentifikasi. “Di pasar prediksi, data untuk membuktikan penyalahgunaan informasi sering kali sangat sulit bahkan mustahil dikumpulkan,” ujarnya. Namun di pasar prediksi, sumber informasi sering kali tidak jelas dan sulit dibuktikan secara hukum. Karena tekanan regulator meningkat, Kalshi dan Polymarket mulai memperketat aturan perdagangan.
Baca Juga: Trump Klaim China Borong Pesawat dan Produk Pertanian Keduanya kini melarang taruhan yang menggunakan informasi rahasia atau bocoran ilegal. Polymarket bahkan menghapus beberapa taruhan terkait perang setelah menuai kritik publik. Kalshi juga sempat melarang tiga kandidat Kongres AS karena dugaan memanfaatkan informasi politik internal untuk bertaruh. Ketua CFTC Michael Selig menegaskan regulator akan bertindak agresif terhadap insider trading di industri ini.
Meski risikonya meningkat, investor tetap tertarik karena pasar prediksi dinilai sering lebih cepat membaca arah suatu peristiwa dibanding survei atau polling tradisional. Fenomena ini ikut mendongkrak valuasi kedua perusahaan. Kalshi baru saja memperoleh pendanaan baru yang membuat valuasinya melonjak menjadi US$ 22 miliar. Sementara Polymarket disebut sedang mencari pendanaan tambahan dengan valuasi sekitar US$ 15 miliar. Pertumbuhan pesat tersebut kini membuat pasar prediksi menjadi sorotan baru regulator keuangan global, terutama terkait potensi penyalahgunaan informasi rahasia demi keuntungan besar.