PLN Akan Beli Batubara di Harga Pasar, Simak Efek Positif dan Negatifnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memastikan akan ada perombakan besar pada tata kelola pasokan batubara untuk kebutuhan pembangkit listrik dalam negeri. 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan menjelaskan, ke depannya PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan membeli harga batubara mengikuti pergerakan harga batubara di pasar.

Agar tidak memberatkan PLN, pemerintah juga akan membentuk Badan Layanan Umum (BLU) untuk memenuhi selisih harga pasar dengan harga patokan yang sebesar US$ 70 per ton. Untuk itu, nantinya perusahaan wajib membayarkan pungutan kepada BLU untuk selanjutnya dialokasikan sebagai kompensasi atas selisih harga yang dikeluarkan oleh PLN karena membeli batubara dengan harga pasar.


Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama menilai, kebijakan pembelian batubara di harga pasar oleh PLN akan menjadi katalis positif bagi emiten batubara. 

"Mengingat, saat ini harga pasar lebih tinggi dari harga domestic market obligation (DMO) yang sebesar US$ 70 per ton," kata Okie saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (11/1).

Baca Juga: Pasokan Batubara ke Pembangkit PLN Mulai Membaik

Perusahaan-perusahaan yang selama ini banyak memasok batubara ke PLN nampaknya akan menjadi pihak yang paling diuntungkan. Berdasarkan keterangan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI pada 15 November 2021, tiga besar perusahaan yang paling banyak memasok batubara ke PLN adalah PT Bukit Asam Tbk, konsorsium PT Arutmin Indonesia dan PT Darma Henwa, serta PT Kaltim Prima Coal.

Merujuk laporan keuangan Bukit Asam per September 2021, pendapatan perusahaan dari penjualan batubara  ke PLN mencapai Rp 3,95 triliun atau 63% dari total pendapatan Bukit Asam. 

Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk selaku induk usaha PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal mencatatkan pendapatan US$ 141,05 juta dari penjualan batubara ke PLN atau setara 33% dari total pendapatan Bumi Resources.

Di sisi lain, Okie menilai kebijakan tersebut dapat mendorong naiknya inflasi dimana biaya energi dapat mendorong tingginya biaya operasional perusahaan di berbagai sektor. 

Menurut Okie, pelaku pasar juga masih akan mencermati lebih lanjut terkait cara pemerintah memenuhi selisih harga DMO dengan harga pasar batubara.

"Meskipun begitu, dalam jangka waktu pendek dan menengah investor dapat memanfaatkan momentum dari penguatan harga batubara acuan yang dinilai dapat mendorong kinerja emiten di kuartal I-2022," ucap Okie. 

Ia merekomendasikan buy saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan target harga Rp 2.530, PTBA Rp 2.960, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Rp 21.400 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi