KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN (Persero) dan perusahaan listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) bersiap menghadapi El Nino dan musim kemarau panjang. PLN dan IPP memitigasi dampak El Nino terhadap operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Minihidro (PLTM) serta Mikrohidro (PLTMH). Executive Vice President Komunikasi Korporat & Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN, Gregorius Adi Trianto mengakui, fenomena El Nino berpotensi memengaruhi operasional pembangkit tenaga air. Sebab, berkurangnya curah hujan dapat menurunkan debit air dan tinggi muka air waduk maupun sungai sebagai sumber energi pembangkit. "Namun demikian, dampak El Nino tidak bersifat seragam di seluruh Indonesia karena sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, kapasitas tampungan waduk, serta komposisi pembangkit di masing-masing wilayah," ungkap Greg kepada Kontan.co.id, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: Badan Usaha Diminta Pasok 212 Juta MT Batubara ke PLN, APBI Buka Suara Secara nasional, hingga April 2026, kapasitas terpasang pembangkit listrik Indonesia mencapai sekitar 80 Gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, pembangkit listrik tenaga air (PLTA, PLTM, dan PLTMH) berkontribusi sekitar 6,35 GW atau 7,9% dari total kapasitas pembangkitan nasional. Kontribusi tersebut menjadikan pembangkit tenaga air sebagai kontributor terbesar dalam bauran pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT), yang secara keseluruhan mencapai sekitar 11,7% dari kapasitas pembangkitan nasional.
Koordinasi dengan BMKG
Guna mengantisipasi potensi El Nino pada 2026, PLN terus memantau perkembangan prakiraan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). PLN telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, antara lain memperkuat koordinasi dengan BMKG dan pemangku kepentingan, serta menyiapkan Teknologi Modifikasi Cuaca apabila diperlukan. Selain itu, PLN mengoptimalkan jadwal pemeliharaan pembangkit, memastikan kecukupan energi primer dan optimalisasi pembangkit nonhidro sebagai penyangga, serta mempercepat kesiapan pembangkit tambahan dan menjaga keandalan jaringan transmisi. "Dengan langkah-langkah tersebut, PLN berupaya memastikan keandalan sistem kelistrikan tetap terjaga meskipun terdapat potensi dampak El Nino terhadap operasional pembangkit tenaga air," tegas Greg. BMKG sebelumnya memprediksi bahwa puncak musim kemarau terjadi pada Juli–September 2026. Musim kemarau di Indonesia pada tahun ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normal, sehingga memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino. Apalagi, fenomena El Nino berpotensi akan bertahan hingga awal tahun 2027. Tak hanya PLN, IPP juga bersiap menghadapi El Nino. Salah satunya dilakukan oleh PT Hero Global Investment Tbk (HGII). Direktur Utama HGII Robin Sunyoto mengamini bahwa risiko musim kemarau dan potensi El Nino merupakan salah satu risiko operasional yang melekat pada bisnis pembangkit listrik berbasis tenaga air.
Baca Juga: Diminta Pasok Batubara 212 Juta Ton ke PLN, Perhapi Soroti Kapasitas Stockpile PLTU Robin menyatakan, musim kemarau maupun El Nino merupakan bagian dari risiko operasional yang telah dipertimbangkan secara saksama dalam pengelolaan aset pembangkit. Dus, musim kemarau merupakan salah satu faktor eksternal dalam risk register yang dimonitor secara cermat karena dapat mempengaruhi debit air sebagai sumber energi utama. "Risiko operasional merupakan hal yang perlu diperhatikan di bisnis apapun. Demikian pula bagi HGII, risiko musim kemarau telah menjadi bagian dari proses manajemen risiko. Kami melakukan monitoring aspek hidrologi secara berkelanjutan, mengoptimalkan operasi pembangkit, serta mengelola portofolio aset untuk meningkatkan ketahanan operasional," kata Robin kepada Kontan.co.id, Senin (13/7/2026).
Siapkan Mitigasi
Robin mengungkapkan, HGII telah melakukan beberapa langkah mitigasi. Mulai dari pemantauan debit air dan kondisi cuaca secara intensif, optimalisasi operasi pembangkit, penguatan pemeliharaan aset, serta untuk jangka panjang, berproses menuju upaya reforestasi bersama lintas pemangku kepentingan untuk merawat area tangkapan air. "Langkah-langkah ini merupakan upaya meminimalkan dampak potensi El Niño serta keberlanjutan terhadap operasional PLTM untuk menjaga keandalan pasokan energi terbarukan," imbuh Robin. Fenomena El Nino turut menjadi perhatian bagi PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). Head of Investor Relations ARKO Nicko Yosafat menyatakan risiko iklim telah menjadi pertimbangan sejak awal pengembangan proyek atau desain pembangkit. ARKO pun telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak dari risiko iklim terhadap keberlangsungan operasional dan usaha. Pertama, dari sisi pemilihan dan desain lokasi, ARKO memilih lokasi pembangkit dengan mempertimbangkan kondisi hidrologi historis termasuk skenario El Nino. "Hulu sungai yang berhutan lebat membantu menjaga ketersediaan air bahkan di musim kemarau," kata Nicko. Kedua, pembangkit ARKO tersebar di Jawa Barat, Lampung, dan dua lokasi di Sulawesi Tengah. Dengan begitu, dampak El Niño tidak terkonsentrasi pada satu wilayah saja, sehingga penurunan produksi di satu lokasi dapat sebagian tertutupi oleh lokasi lain yang kondisi hidrologisnya relatif lebih baik.
Baca Juga: Industri Tekstil RI Beri Alarm, Prospek Industri Manufaktur Semester II Menantang Ketiga, ARKO memanfaatkan momentum di musim kemarau untuk mengintensifkan program preventive maintenance pada seluruh unit pembangkit. Mencakup peningkatan right-of-way (ROW) jaringan transmisi, normalisasi drainase, serta pemeliharaan pembangkit per unit. "Dengan kondisi pembangkit yang prima saat memasuki kemarau, kami dapat memaksimalkan produksi dari debit air yang tersedia," imbuh Nicko. Keempat, dari sisi konstruksi dan pengembangan, ARKO memanfaatkan periode kemarau untuk mengakselerasi pekerjaan konstruksi pada proyek-proyek yang sedang dalam tahap pembangunan. Sebab, kondisi cuaca kering bisa mendukung kelancaran aktivitas konstruksi di lapangan. "Jadi, secara keseluruhan, kami memandang El Nino sebagai bagian dari siklus bisnis yang tetap dapat dimanfaatkan sebagai momentum akselerasi pembangunan proyek dan maintenance pembangkit yang telah beroperasi," kata Nicko. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News