PLN Indonesia Barat investasi Rp 70 miliar untuk kabel bawah laut



JAKARTA. PT PLN (Persero) berencana menghubungkan kepulauan di wilayah Indonesia Barat dengan menggunakan kabel bawah laut tegangan menengah 20 kilo volt (kV). PLN siap untuk mengalokasikan dana sebesar Rp 70 miliar untuk membuat kabel bawah laut yang rencananya bakal dikerjakan selama dua tahun. "Risiko kabel bawah laut tidak seperti sambungan Jawa Bali karena arusnya di Indonesia barat tidak cukup deras jadi bisa memungkinkan dengan kabel laut tegangan menengah," ujar Direktur Indonesia Barat PLN, Harry Jaya Pahlawan, Jumat (15/4).Rencananya dalam waktu dua tahun ini, PLN akan membuat sambungan kabel bawah laut yang menghubungkan antar pulau dengan panjang 30 kilometer (km). Saat ini, PLN masih melakukan tender untuk pengadaan kabel bawah laut. "Program merangkai kepulauan ini akan di luncurkan pada Oktober 2011 saat ulang tahun PLN," kata Harry.Targetnya, sambungan kabel bawah laut ini akan mengalirkan setrum untuk 27.000 pelanggan di 2012. Harry menuturkan, dengan adanya program kabel bawah laut ini mampu menghemat pemakaian bahan bakar minyak (BBM). Dengan begitu, PLN diperkirakan bisa menghemat hingga Rp 30 miliar per tahun. Kepala Divisi Distribusi dan Pelayanan Pelanggan Indonesia Barat PLN, Karel Sampe Payung mengatakan meski menghemat, pemakaian BBM di wilayah Indonesia Barat masih tergolong besar. Tiap tahunnya, kata Karel PLN harus menghabiskan dana sebesar Rp 15 triliun untuk penggunaan BBM. "Kalau dilihat memang tidak besar tapi kan kita bisa menghemat Rp 30 miliar, ini juga harus dilihat," tutur Karel.Merujuk data PLN, konsumsi BBM pada 2010 mencapai 2,005 juta kilo liter (KL). Jumlah itu terdiri dari konsumsi High Speed Diesel (HSD) sebesar 1,48 juta KL dan konsumsi Marine Fuel Oil (MFO) sebesar 520 ribu KL. Di Sumatera, konsumsi HSD mencapai 1,25 juta KL. Sedangkan di Kalimantan Barat konsumsi HSD mencapai 235 ribu KL. Sedangkan untuk MFO di Sumatera konsumsinya mencapai 355 ribu KL sedangkan di Kalimantan Barat konsumsinya 165 ribu KL.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Rizki Caturini