KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Melalui implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN Indonesia Power (PLN IP) mengumumkan telah menyiapkan pengembangan 268 proyek pembangkit listrik dengan total kapasitas tambahan mencapai 30.276,2 Megawatt (MW) atau setara dengan 30,2 Gigawatt (GW) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pengembangan proyek pembangkit tersebut merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045. Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan bahwa rencana pengembangan pembangkit ini merupakan bagian dari transformasi strategis PLN Indonesia Power untuk menghadirkan sistem pembangkitan yang semakin ramah lingkungan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Buka Suara Soal Kebijakan Pembatasan Pembelian BBM di Daerah “PLN Indonesia Power berkomitmen untuk menjadi salah satu penggerak utama transisi energi nasional. Melalui pengembangan pembangkit baru yang semakin didominasi energi baru terbarukan serta upaya dekarbonisasi pembangkit eksisting, kami optimistis dapat mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060,” ujar Bernadus dalam keterangan tertulis, Rabu (18/03/2026). Dari total rencana pengembangan tersebut, sekitar 28 GW berasal dari alokasi RUPTL 2025, sementara 2,2 GW merupakan proyek yang telah mendapatkan penugasan sebelumnya. Secara keseluruhan, program ini mencakup 268 proyek pembangkit, terdiri dari 255 proyek dalam alokasi RUPTL 2025 serta 13 proyek yang telah mendapatkan penugasan sebelumnya. Dalam peta jalan menuju Net Zero Emission (NZE) 2060, PLN Indonesia Power menargetkan transformasi kapasitas pembangkit secara bertahap dari sekitar 23 GW pada 2025 menjadi sekitar 107 GW pada 2060. Transformasi ini dilakukan melalui dua inisiatif utama, yaitu pengembangan pembangkit baru dengan emisi rendah hingga nol karbon serta optimalisasi pembangkit eksisting agar lebih efisien dan rendah emisi. Selain pembangunan pembangkit baru, perusahaan juga melakukan berbagai upaya dekarbonisasi pada pembangkit yang telah beroperasi. Langkah tersebut antara lain melalui penerapan
biomass cofiring, pemanfaatan hidrogen dan biofuel, serta pengembangan teknologi
carbon capture, utilization, and storage (CCUS). “Kami tidak hanya fokus membangun pembangkit energi bersih baru, tetapi juga melakukan transformasi pembangkit yang sudah ada melalui berbagai inovasi teknologi rendah karbon. Dengan pendekatan ini, transisi energi dapat dilakukan secara bertahap tanpa mengurangi keandalan sistem kelistrikan,” tambah Bernadus.
Baca Juga: Manfaatkan Kecerdasan Buatan, Hypernet Perkenalkan Otomatisasi Jaringan Bagi Pebisnis Dalam rencana pengembangan pembangkit hingga 2034, energi baru terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus utama pengembangan portofolio pembangkit PLN Indonesia Power, antara lain melalui pembangunan PLTS, PLTA, PLTB, dan PLTP, serta penguatan teknologi penyimpanan energi melalui Battery Energy Storage System (BESS) untuk mendukung integrasi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional.
Pengembangan proyek pembangkit tersebut dirancang tersebar di seluruh wilayah Indonesia guna mendukung pemerataan infrastruktur energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Menurut Bernadus, keberhasilan program pengembangan pembangkit ini juga sangat bergantung pada kolaborasi dengan berbagai pihak. “Kami membuka peluang kerja sama yang luas dengan berbagai mitra strategis, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mempercepat realisasi proyek-proyek pembangkit ini. Kolaborasi menjadi kunci untuk menghadirkan sistem kelistrikan yang andal, berkelanjutan, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News