PLN minta jatah batubara ditambah



JAKARTA. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) meminta jatah alokasi batubara dalam negeri untuk pembangkit listrik sebanyak 81 juta ton pada 2016. Jumlah ini naik 14,73% dari realisasi penyerapan batubara untuk pembangkit PLN yakni 70,6 juta ton di 2015.

Kepala Divisi Batubara PLN Harlen menyatakan, realisasi tahun lalu merupakan gabungan penyerapan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan pembangkit listrik swasta atau independent power producer (IPP).

Adapun asumsi kebutuhan batubara tahun ini untuk PLN mencapai 77,4 juta ton. "Tapi kami minta alokasi domestic market obligation (DMO) sekitar 81 juta ton ke Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara," kata Harlen kepada KONTAN, Selasa (26/1). Maklum, harus ada cadangan untuk keperluan pembangkit.


Dia menambahkan, sebenarnya asumsi permintaan menjadi 81 juta ton batubara ini sudah hampir pasti terserap. Pertimbangannya sebagian besar batubara untuk PLTU tersebut sudah teken kontrak secara jangka panjang.

PLN menargetkan tambahan kontrak baru pada tahun ini seiring dengan terus bertambahnya realisasi proyek-proyek ketenagalistrikan.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Adhi Wibowo mengatakan bahwa naiknya kebutuhan batubara untuk PLTU telah memberikan kontribusi relatif besar terhadapĀ  penyerapan DMO secara keseluruhan. Tahun ini pemerintah memperkirakan produksi batubara nasional sekitar 419 juta ton. "Demand untuk dalam negeri memang terus membaik, terutama permintaan dari pembangkit listrik," katanya, Selasa (26/1).

Penyerapan permintaan batubara itu disebabkan oleh bertambahnya jumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang beroperasi pada tahun ini. Namun sayangnya Adhi belum bisa membeberkan perincian data penambahan jumlah pembangkit yang beroperasi pada tahun ini.

Adhi hanya menyatakan, mayoritas pembangkit tersebut menggunakan batubara kalori menengah. Atas dasar itu pula permintaan dalam negeri yang meningkat adalah jenis kalori menengah.

Dia menambahkan, saat ini proyek ketenagalistrikan dalam negeri memang diharapkan menjadi penopang utama bisnis batubara. Apalagi, jika program pembangkit listrik

35.000 megawatt (MW) berjalan mulus, akan ada tambahan DMO sebanyak 80 juta ton pada 2019 atau bisa menjadi sekitar 160 juta ton.

Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai, kebutuhan batubara untuk tahun 2016 bisa mencapai lebih dari 81 juta ton. Sebab proyek 35.000 MW bisa mendongkrak kebutuhan batubara domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie