KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT PLN baru merealisasikan hampir 1 GW pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dari 20,9 GW yang ditargetkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. Executive Vice President of Renewable Energy PT PLN, Zainal Arifin mengatakan, eksekusi pembangkit EBT dalam RUPTL tertunda 1,5 tahun akibat oversupply listrik yang dialami PLN. “Jadi kami sesuaikan (adjusment) lagi targetnya dan tetap on track supaya tetap sesuai dengan RUPTL masih ada waktu kok,” ujarnya dalam acara IMEC 2023 di Financial Hall CIMB Niaga, Selasa (19/12).
Baca Juga: PLN Kantongi 14 Kerja Sama dari Dubai Melansir materi paparannya, perkembangan implementasi RUTPL 2021-2030 ialah sebagai berikut. Sebanyak 0,8 GW telah memasuki masa Commercial Operation Date (COD), kemudian 5,4 GW telah Power Purchase Agreement (PPA) dan konstruksi, 1,2 GW dalam tahap pelaksanaan pengadaan, 5,6 GW masa studi enjiniring pendanaan, dan sisanya 7,9 GW dalam perencanaan. Zainal mengatakan, sudah ada 13 GW lebih proyek EBT yang masuk dalam tahap COD, pengadaan, konstruksi sehingga bisa dikatakan 65% rencana RUPTL on the track. Demi merealisasikan 20,9 GW EBT ini, PLN membutuhkan investasi senilai US$ 36 miliar di mana paling besar dialokasikan untuk membangun pembangkit EBT baseload sebesar 15,7 GW atau senilai US$ 29 miliar. Sedangkan sisanya US$ 3 miliar dibutuhkan untuk membangun transmisi, dedieselisasi, dan membangun variable renewabe energy (VRE).