KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN memetakan akan ada 4.118 proyek dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Proyek kelistrikan yang mencakup pembangkit, transmisi dan gardu induk serta distribusi ini memerlukan investasi jumbo sekitar Rp 3.000 triliun. Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo membeberkan investasi tersebut terdiri dari sekitar Rp 2.600 triliun untuk proyek pembangkit, Rp 300 triliun untuk transmisi dan gardu induk, serta Rp 100 triliun untuk distribusi. RUPTL 2025-2034 menargetkan kapasitas pembangkit sebanyak 69,5 Gigawatt (GW), 47.000 kilometer sirkuit (kms) transmisi dan 102.000 (Mega Volt-Ampere) gardu induk. "Di RUPTL akan ada 4.118 proyek selama 10 tahun dengan nilai proyek sekitar Rp 3.000 triliun. PLN akan membagi dalam beberapa tahapan pembangunan dengan proyeksi COD (operasi komersial) sesuai dengan yang tertera di RUPTL," di acara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Power Development Forum 2026, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Pembentukan Badan Ekspor Demi Atasi Manipulasi Ekspor dan Modus Transfer Pricing Dalam hal penambahan kapasitas pembangkit, Rizal menegaskan pentingnya keterlibatan investasi dari pelaku usaha swasta atau Independent Power Producer (IPP). Porsi proyek pembangkit IPP bahkan akan mencapai sekitar 70%-75% dari keseluruhan. "Dengan memperbesar (porsi) IPP, itu juga membantu kemampuan keuangan PLN, sehingga ada angka sekitar 70%-75% seluruh proyek pembangkitan itu adalah IPP. Artinya ada peluang bagi pengusaha-pengusaha," imbuh Rizal. Pada kesempatan yang sama, Executive Vice President Pengembangan Bisnis Korporat dan Investasi PLN Abdan Hanif Satria merinci bahwa estimasi total investasi untuk RUPTL 2025-2034 mencapai Rp 2.966 triliun. Khusus dari sisi pembangkit listrik, porsi investasi untuk proyek pembangkit IPP mencapai Rp 1.566 triliun. Sedangkan untuk pembangkit yang akan dibangun oleh PLN diestimasikan sebesar Rp 567 triliun. "Jadi dari total (kebutuhan investasi di RUPTL), lebih dari 70% lari ke pembangkitan. Proporsi PLN hanya mengambil kurang lebih seperempat, dan di situ ada ruang kolaborasi (dengan investor dan pengusaha swasta)," kata Abdan. Abdan mengungkapkan kebutuhan investasi jumbo tersebut membuka tiga ruang keterlibatan strategis bagi pelaku usaha swasta. Mencakup pengembangan pembangkit, rantai pasok & manufaktur, serta infrastruktur pendukung sistem. Dari target penambahan kapasitas 69,5 GW pembangkit dalam RUPTL, sekitar 76% merupakan pembangkit listrik berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Abdan mengakui masih ada tantangan struktural untuk memacu proyek EBT. Pertama, Abdan menyoroti adanya gap pembiayaan. Dia menggambarkan, kebutuhan investasi EBT bisa mencapai lebih dari US$ 20 miliar per tahun. Namun secara historis, realisasinya masih di bawah US$ 2 miliar per tahun.
Baca Juga: ISSP: Kebijakan SNI Baja Impor Perkuat Persaingan Sehat Industri Nasional Tantangan lainnya adalah keekonomian proyek EBT, infrastruktur transmisi dan integrasi grid, serta kapasitas industri dan rantai pasok global. Guna menjawab tantangan tersebut, Abdan menyoroti pentingnya kolaborasi dengan sektor swasta. Kolaborasi tersebut mencakup inovasi pembiayaan, skema kemitraan dan risk-sharing, pendalaman industri dalam negeri, serta penguatan kapasitas dan sumber daya manusia. "Untuk bisa menangkap peluang itu banyak tantangannya. Dari tantangan itu ada kolaborasi yang bisa dilakukan antara PLN dan semua calon mitranya," imbuh Abdan.
Di sisi lain, guna memacu transisi energi, Presiden Prabowo Subianto telah menacanangkan target kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW. Target ambisius ini jauh lebih tinggi dibandingkan target penambahan kapasitas PLTS dalam RUPTL 2025-2034 yang hanya sebesar 17,1 GW. Target PLTS 100 GW membutuhkan investasi jumbo. Rizal Calvary memberikan gambaran bahwa investasi PLTS sebesar 1 GW membutuhkan investasi sekitar US$ 1 miliar. Dus, kebutuhan investasi untuk mencapai PLTS 100 GW mencapai sekitar US$ 100 miliar atau setara dengan lebih dari Rp 1.760 triliun jika menggunakan asumsi kurs saat ini. "Ini dari sisi PLTS, belum lagi (investasi untuk) baterainya. Ke depan PLN akan bergerak secara lebih agresif pada pengembangan teknologi PLTS," tandas Rizal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News