PLN Ungkap Pesanan Listrik Data Center Kini Tembus 1-3 GW per Proyek



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN mencatat telah memasok kebutuhan listrik untuk industri pusat data (data center) dengan kapasitas terpasang mencapai 1.989,5 mega volt ampere (MVA) atau setara hampir 2 gigawatt (GW).

Vice President Priority Account Executive Swasta dan Bisnis PT PLN, Fauzi Arubusman, menjelaskan kebutuhan listrik dari industri data center terus meningkat seiring perkembangan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan aliasĀ artificial intelligence (AI) di Indonesia.

"Saat ini kami sudah melayani kurang lebih 2.000 MVA, kurang lebih 2 GW support. Artinya kalau dibandingkan dengan Malaysia ini sudah sama besarnya," ujar Fauzi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/9/2026).


Baca Juga: Industri Baterai Butuh Kepastian Regulasi, Listrik Jadi Penopang Industrialisasi

Ia menyebut pasokan listrik untuk data center saat ini sebagian besar masih menggunakan pasokan listrik pada tegangan menengah 20 kilovolt (kV).

Bagaimanapun, menurutnya, peluang pengembangan data center di Indonesia masih sangat besar. Saat ini, terdapat tambahan permintaan yang tengah diproses PLN dengan kapasitas mencapai sekitar 3.534 megawatt (MW) sebagai prioritas pertama.

Setelah itu, pada prioritas kedua, PLN akan menyediakan kapasitas untuk permohonan baru dengan total sekitar 9.460,8 MW. Kebutuhan kapasitas yang jumbo ini turut didorong meningkatnya penggunaan AI.

"Permintaannya bukan lagi order 100-200, tetapi sudah order 1 GW, 2 GW, bahkan 3 GW," imbuh Fauzi.

Dia menggambarkan, dengan adanya keperluan sebesar 1 GW, PLN harus menyalurkan minimal 500 kV. Karena itu, investasi yang digelontokan juga dinilai besar dan pembangunannya diperkirakan membutuhakan waktu hingga 3-5 tahun.

Meski demikian, ia tak memungkiri bahwa peningkatan kebutuhan listrik data center juga membutuhkan kesiapan infrastruktur ketenagalistrikan untuk menjaga keandalan pasokan.

Fauzi mengatakan, salah satu tantangan dalam pengembangan data center adalah kebutuhan investasi infrastruktur transmisi berkapasitas besar.

Maka untuk mendukung kebutuhan tersebut, ia bilang PLN terus mengembangkan jaringan transmisi dan memperkuat sistem kelistrikan.

Baca Juga: Pertamina Beberkan Tantangan Pengembangan E20, Pasokan Bioetanol Masih Terbatas

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) juga dioptimalkan lebih lanjut sebagai bagian dari dukungan terhadap pertumbuhan industri data center.

Menurut Fauzi, data center membutuhkan tiga aspek utama, yakni pasokan listrik, air, dan konektivitas jaringan. Karena itu, PLN berupaya memastikan ketersediaan listrik yang andal sekaligus mendukung kebutuhan energi hijau bagi pelaku industri.

Selain pasokan listrik konvensional, PLN juga menyiapkan skema energi hijau melalui Renewable Energy Certificate (REC) maupun skema dedicated source, yakni kerja sama pengembangan sumber energi terbarukan secara langsung dengan pelanggan.

"Untuk REC, kami sudah menyiapkan kurang lebih 10.000 GWh untuk kebutuhan REC dari banyak data center," ujarnya.

Ia mengatakan, pengembangan energi hijau untuk data center menjadi bagian dari upaya PLN mendukung pertumbuhan ekosistem digital di Indonesia, termasuk mendorong penyebaran lokasi data center tidak hanya terpusat di sekitar Jakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News