KONTAN.CO.ID - JAKARTA Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, memasuki tahap akhir persiapan operasi. Pembangkit yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) ini bersiap melakukan penggenangan waduk sebelum menjalani serangkaian pengujian.
Percepatan penyelesaian proyek senilai Rp 21,6 triliun tersebut untuk memperkuat pasokan listrik di Sumatera yang saat ini memiliki cadangan daya terbatas. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan, cadangan operasional listrik di Sumatera saat ini hanya sekitar 4%, jauh di bawah tingkat ideal sebesar 15%–20%. "Cadangan operasional hanya 4%, padahal idealnya sekitar 15%–20%. Jadi ini antisipasi untuk kebutuhan yang meningkat, sekaligus untuk keandalan sistem kelistrikan Sumatra," ujar Yuliot dalam keterangannya Pemerintah menargetkan pembangkit tersebut dapat segera beroperasi untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan listrik menjelang periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Yuliot menjelaskan, penggenangan waduk menjadi tahapan penting sebelum seluruh fasilitas pembangkit diuji dan dihubungkan dengan jaringan listrik PLN. Sebelumnya, Yuliot juga meninjau langsung kesiapan bendungan dan pintu air pada terowongan pengelak (
diversion tunnel). Direktur Teknologi,
Engineering dan Keberlanjutan PLN, Edwin Nugraha Putra mengatakan, sistem kelistrikan Sumatera bagian utara saat ini masih bergantung pada pasokan dari Sumatera bagian selatan melalui jaringan transmisi.
Baca Juga: Gangguan Penerbangan Arab Saudi, Ini Dampaknya bagi Bisnis Travel Umrah Dengan pertumbuhan kebutuhan listrik Sumatra Utara sekitar 100 MW–120 MW per tahun, tambahan kapasitas 510 MW dari PLTA Batang Toru diperkirakan mampu menopang kebutuhan listrik wilayah tersebut selama empat hingga lima tahun mendatang. "Kapasitas 510 megawatt ini akan menopang pembangunan di Sumatera Utara sendiri untuk sekitar 4–5 tahun," kata Edwin. Sementara itu, Presiden Direktur NSHE, Ye Ling menyatakan, pihaknya berkomitmen memenuhi seluruh persyaratan teknis dan arahan instansi terkait, termasuk ketentuan
grid code agar pembangkit dapat terhubung dengan jaringan PLN. Penggenangan waduk akan dilakukan setelah seluruh persyaratan teknis terpenuhi dengan tetap memperhatikan keselamatan bendungan dan masyarakat sekitar.
Setelah penggenangan, proyek akan memasuki tahap pengujian fasilitas, penerbitan Sertifikat Laik Operasi (SLO), hingga penetapan tanggal operasi komersial atau
commercial operation date (COD). PLTA Batang Toru dirancang sebagai pembangkit beban puncak (
peaker) yang beroperasi penuh pada pukul 18.00–24.00. Pembangkit ini juga memiliki kemampuan
black start untuk membantu pemulihan jaringan listrik apabila terjadi pemadaman meluas. Sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), PLTA Batang Toru ditargetkan menghasilkan energi listrik sekitar 2.124 gigawatt jam (GWh) per tahun. Kehadirannya diharapkan dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News